kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.939   18,00   0,11%
  • IDX 7.215   108,40   1,53%
  • KOMPAS100 1.001   22,47   2,30%
  • LQ45 738   15,71   2,17%
  • ISSI 255   6,00   2,41%
  • IDX30 402   9,09   2,31%
  • IDXHIDIV20 504   15,02   3,07%
  • IDX80 113   2,52   2,28%
  • IDXV30 137   2,66   1,97%
  • IDXQ30 131   3,86   3,03%

Ada Potensi Insentif GWM Rp 122 Triliun Bisa Dimanfaatkan Bank untuk Dorong Kredit


Rabu, 21 Februari 2024 / 19:27 WIB
Ada Potensi Insentif GWM Rp 122 Triliun Bisa Dimanfaatkan Bank untuk Dorong Kredit
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) melaporkan masih ada potensi likuiditas sebesar Rp 122 triliun dari kebijakan insentif makropudensial berupa pemotongan setoran Giro Wajib Minimum (GWM).


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan masih ada potensi likuiditas sebesar Rp 122 triliun dari kebijakan insentif makropudensial berupa pemotongan setoran Giro Wajib Minimum (GWM). Potensi likuiditas itu yang bisa dimanfaatkan perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit pada tahun 2024.

Seperti yang diketahui, kebijakan insentif BI berupa pemotongan setoran GWM perbankan yang turun menjadi 4% dari DPK diharapkan dapat mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit lebih gencar ke sektor prioritas. Seperti hilirisasi mineral dan batubara (minerba), dan non minerba seperti sektor pangan, pertanian, perikanan, peternakan, perumahan, hingga UMKM. 

Deputi Gubernur BI Juda Agung menyebut, sejak kebijakan insentif likuiditas makropudential diberlakukan pada Oktober 2023 lalu, tercatat realisasi insentif tersebut sudah mencapai Rp 163 triliun yang diberikan kepada bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

"Jadi dari potensinya (insentif) sebesar Rp 283 triliun, realisasinya sudah Rp 163 triliun tahun lalu, sehingga masih sisanya masih ada Rp122 triliun yang bisa dimanfaatkan oleh bank-bank tahun ini," kata Juda dalam Konfrensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/2).

Baca Juga: Jumlah Kredit Restrukturisasi Covid-19 Terus Turun, Biaya Bredit Perbankan Menyusut

Lebih lanjut, Juda menyebut, mayoritas kredit perbankan ke sektor prioritas  disalurkan ke UMKM, baik itu pembiayaan ultra mikro (UMi) maupun usaha kecil menengah (UKM) lainnya. Selanjutnya disusul ke sektor hilirasi non minerba seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan sisanya di sektor minerba.

"Sejak tahun lalu sudah memberikan insentif likuiditas, total GWM 9%, sekarang GWM yang moneter 5%, yang 4% kami berikan insentif untuk mendorong kredit, tapi penurunan ini kepada bank bank kalau nyalurkan kredit ke sektor produktif atau kata lain insentif produktif," kata dia, Rabu (21/2).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×