kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.970   57,00   0,32%
  • IDX 5.707   63,87   1,13%
  • KOMPAS100 737   8,83   1,21%
  • LQ45 560   6,62   1,20%
  • ISSI 199   2,00   1,02%
  • IDX30 317   3,05   0,97%
  • IDXHIDIV20 391   1,68   0,43%
  • IDX80 84   0,91   1,10%
  • IDXV30 107   -0,06   -0,06%
  • IDXQ30 103   0,76   0,75%

Bidik debitur nakal, Bank Mandiri bikin tim khusus


Minggu, 30 Oktober 2016 / 14:47 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk mengaku akan membentuk tim pengacara khusus untuk menangani debitur bandel. Bank juga akan melakukan tindakan baik preventif maupun represif kepada debitur bandel.

Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Mandiri mengatakan kedua hal tersebut dilakukan agar restrukturisasi kredit bermasalah yang dilakukan bank berjalan lancar. “Dengan hal tersebut diharapkan kinerja ke depan akan lebih baik,” ujar Rohan kepada KONTAN, Minggu (30/10).

Seperti diketahui, sampai kuartal 3 2016, NPL gross bank berkode BMRI ini mencatatkan kenaikan 100bps menjadi 3,81%. Untuk itu bank berkode BMRI ini mencadangkan rasio provisi sebesar 126,56%.

Kenaikan NPL ini membuat bank mencadangkan sejumlah dana sebagai cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 15,9 triliun atau naik 87,4% yoy. CKPN ini membuat laba bersih Mandiri sampai September 2016 mengalami penurunan 17,6% yoy menjadi hanya Rp 12,01 triliun.

Penurunan laba ini juga membuat peringkat perolehan laba bersih Mandiri turun satu peringkat di bawah BRI dan BCA menjadi peringkat 3 dari sebelumnya tahun sebelumnya peringkat 2. Rohan mengatakan, penyebab penurunan peringkat laba ini adalah adanya rasio pencadangan yang cukup besar sampai kuartal 3 2016.

Rohan mengatakan, jika dilihat dari laba sebelum pencadangan, Mandiri mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri. Memang, jika dilihat dari laporan keuangan sampai kuartal 3 2016, laba operasional Mandiri masih mengalami pertumbuhan 14,8% yoy menjadi Rp 55,17 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×