Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank digital mengantisipasi berbagai tantangan dan risiko yang hadir dari kenaikan suku bunga acuan BI Rate yang masif belakangan ini. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan tidak menaikkan suku bunga deposito guna menjaga margin profitabilitas.
Padahal, sebelumnya bank digital terkenal dengan bunga tinggi deposito sebagai strategi penjaringan dananya. Kini, strategi tersebut disesuaikan seiring tingginya ketidakpastian.
Krom Bank menjadi salah satu yang melakukannya. Saat ini, bunga deposito Krom Bank dibanderol di rentang 6,5%–8%. Tawaran ini menurun karena dalam catatan Kontan, hingga akhir tahun lalu bunga deposito Krom Bank masih di level 7%–8,25%. Artinya, transmisi penurunan suku bunga sepanjang tahun lalu sudah terjadi.
Namun menyongsong era suku bunga tinggi yang kembali, Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan bilang pihaknya bakal mempertahankan suku bunga deposito yang berlaku sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana yang prudent.
Baca Juga: Krom Bank Catat 1 Juta Rekening hingga April 2026
“Krom Bank akan tetap melakukan benchmarking secara aktif terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran dan keberlanjutan bisnis,” ungkap Anton kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Kendati begitu, guna menjaga laju profitabilitas, Krom Bank bakal melakukan observasi dan analisa lebih lanjut terkait dampak kenaikan BI Rate ini, sekaligus melakukan penguatan kembali manajemen risiko yang ada. Saat ini, Anton bilang pihaknya bakal fokus dalam menghimpun dana murah melalui ekosistem digital yang dimiliki.
Di saat yang sama, Krom Bank juga melakukan berbagai penyesuaian dalam menjaga risiko kredit macet (non performing loan/NPL) dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat dalam pemberian kredit.
Anton mengaku mencermati potensi melandainya rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menyusul langkah bank sentral mengerek suku bunga acuan. Maka dari itu, pihaknya bakal berfokus pada efisiensi biaya dana untuk menjaga margin bunga tetap stabil guna pemberian suku bunga kredit tetap kompetitif.
Allo Bank juga mengambil langkah serupa. Sejak akhir tahun lalu, bunga deposito Allo Bank masih bertahan di angka 5,5%. Pun, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo bilang pihaknya belum melihat kebutuhan untuk melakukan penyesuaian bunga deposito secara agresif saat ini.
Lebih lanjut, Destya bilang sejauh ini Allo Bank masih melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap kondisi likuiditas internal, perilaku nasabah, dinamika kompetisi funding, serta kebutuhan pertumbuhan kredit ke depan.
Baca Juga: Kemudahan Transaksi Jadi Kunci Utama Nasabah Pilih Bank Digital
“Karena itu, pendekatan yang kami ambil adalah tetap fleksibel dan berbasis kebutuhan bisnis, bukan sekadar merespons perubahan BI Rate secara otomatis,” jelasnya.
Kalaupun ada penyesuaian bunga deposito, Destya bilang itu bakal dilakukan secara bertahap dan selektif, baik berdasarkan tenor maupun segmen nasabah. Besaran maupun waktunya bakal sangat bergantung pada perkembangan likuiditas industri dan kebutuhan funding bank.
Pasalnya, bank juga mencermati risiko pengetatan kompetisi dana, terutama di segmen perbankan digital. Meski begitu, Destya bilang kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Likuiditas industri relatif masih memadai dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara umum masih mampu mengimbangi kebutuhan penyaluran kredit. Dus, Allo Bank belum melihat adanya tekanan likuiditas yang signifikan dalam jangka pendek.
Lagipula, ia juga mencermati bahwa kenaikan biaya dana berpotensi memberikan tekanan terhadap margin bunga bersih atau NIM. Namun ia menegaskan bahwa pengelolaan profitabilitas bank tak cuman bergantung pada sisi funding. Destya memastikan pihaknya terus mengoptimalkan struktur aset produktif, meningkatkan kualitas kredit, memperbaiki risk adjusted return, serta mendorong pertumbuhan fee based income dari aktivitas transaksi digital.
“Jadi apabila terjadi tekanan terhadap NIM, kami memperkirakan sifatnya akan tetap terkendali dan berada dalam koridor yang dapat dikelola. Fokus kami bukan semata mempertahankan NIM pada level tertentu, tetapi memastikan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas yang berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga: Kredit Bank Digital Masih Tumbuh Subur di Tengah Pelemahan Industri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













