kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

Tabungan Warga Kian Menipis, Sinyal Masyarakat Makan Tabungan Kian Nyata


Kamis, 30 Juli 2026 / 20:34 WIB
Tabungan Warga Kian Menipis, Sinyal Masyarakat Makan Tabungan Kian Nyata
ILUSTRASI. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Melambat (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren simpanan segmen kecil di perbankan melandai. Berbagai katalis menjadi sebabnya, tetapi fenomena makan tabungan menjadi yang paling disoroti. 

Hingga Juni 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat nominal simpanan di bawah Rp 100 juta masih berhasil tumbuh 2,1% dalam sebulan menjadi Rp 1.166,76 triliun. Dalam setahun, pertumbuhannya mencapai 5,2%. 

Namun, riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menunjukkan rata-rata nominal simpanan di segmen ini terus menurun. Pada 2018, nominal rata-rata simpanan di bawah Rp 100 juta senilai Rp 3,1 juta per rekening, kemudian menurun menjadi Rp 1,8 juta per rekening pada 2024. Hingga Mei 2026, nilainya kian turun menjadi Rp 1,7 juta per rekening. 

Baca Juga: Bank Mantap Perkuat Ekosistem Layanan Pensiunan

Dari situ, Chief Economist Perbanas Winang Budoyo menyebut, terlihat bahwa meski total nominal simpanan dalam segmen ini masih tumbuh, nyatanya nilai simpanan secara individu di masyarakat terus berkurang. 

“Artinya lebih banyak tabungan yang dipakai dibandingkan yang mereka akumulasikan,” kata Winang dalam forum di Jakarta, Kamis (30/7/2026). Maka, lanjutnya, fenomena makan tabungan alias mantab dapat terlihat. 

Memang jika dilihat dari data LPS, pertumbuhan nominal simpanan di segmen nasabah ini tak sebanding dengan pertumbuhan rekeningnya. Sementara dalam setahun nominal simpanan di bawah Rp 100 juta tumbuh 5,2%, jumlah rekeningnya dalam periode yang sama tumbuh lebih cepat yakni 9,5% menjadi 689,48 juta. 

Artinya, pertumbuhan nominal simpanan lebih disokong oleh pertumbuhan rekening alih-alih peningkatan nilai simpanan masyarakat. 

Dari sudut pandang bank, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo bilang tren simpanan saat ini mencerminkan dinamika perilaku masyarakat dalam mengelola likuiditas di tengah kondisi ekonomi dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi. 

“Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila sebagian nasabah melakukan penyesuaian alokasi dananya sesuai dengan kebutuhan konsumsi, investasi, maupun pengelolaan keuangan pribadi,” kata Destya kepada Kontan, Kamis (30/7/2026). 

Lebih lanjut, ia bilang nasabah kian aktif memanfaatkan berbagai pilihan produk sesuai dengan tujuan keuangannya. 

Sebagian memilih menjaga likuiditas melalui tabungan untuk kebutuhan transaksi harian, sementara sebagian lainnya mengoptimalkan dananya melalui produk seperti Allo Grow maupun Allo Deposito sesuai dengan kebutuhan dan horizon keuangan masing-masing. 

Baca Juga: Asippindo Sebut Terbuka Peluang Jamkrida Berbentuk Perseroda Gaet Investor Luar

Di Allo Bank sendiri, Destya bilang hingga saat ini belum ada perubahan yang bersifat struktural pada segmen simpanan ritel, termasuk pada kelompok simpanan dengan nominal lebih kecil. Aktivitas keluar-masuk dana tetap terjadi sebagai bagian dari perilaku transaksi harian nasabah, tetapi secara keseluruhan basis pendanaan ritel masih terjaga dengan baik.

Ke depan, pihaknya tetap optimistis terhadap pertumbuhan dana ritel. Sebab potensi digital banking di Indonesia masih sangat besar dan didukung oleh meningkatnya adopsi transaksi digital serta kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan yang praktis dan terintegrasi.

Sementara itu, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita bilang dinamika simpanan segmen kecil umumnya dipengaruhi oleh aktifnya penggunaan untuk kebutuhan sehari-hari. Dus, fluktuasi bulanan lebih mungkin terjadi. 

“Terlebih lagi, pada periode tertentu, sebagian nasabah melakukan penyesuaian arus kas pasca momentum keagamaan, termasuk untuk konsumsi rumah tangga, pembayaran kewajiban rutin, maupun kebutuhan likuiditas pribadi,” jelasnya. 

Hanie bilang pihaknya bakal tetap fokus memperkuat dana ritel sebagai basis pendanaan yang sehat dan berkelanjutan. Itu dilakukan melalui penguatan produk tabungan, layanan digital, payroll, ekosistem haji dan umrah, komunitas, serta kerja sama institusi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×