Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menaikkan target pertumbuhan kredit tahun buku 2026 menjadi 10%–11%, dari sebelumnya 8%–10%. Kenaikan proyeksi tersebut ditopang ekspansi kredit korporasi dan usaha kecil menengah (UKM) yang masih menunjukkan ketahanan di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang semakin ketat.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nurkholis Syafruddin dalam riset pada Kamis (5/11/2026) mengungkapkan manajemen BCA menyampaikan revisi target tersebut dalam diskusi Banking Week bersama tim Investor Relations BCA pada 5 November 2026.
Nurkholis menjelaskan pertumbuhan kredit korporasi BCA turut didorong oleh keberhasilan perusahaan merebut pangsa pasar dari sejumlah bank pesaing yang menghadapi tekanan likuiditas lebih ketat.
Baca Juga: Asing Borong Saham BBRI, BMRI, BRIS di Perdagangan Sesi I Jumat (6/11), BBCA Dilepas
Di sisi lain, BCA masih memiliki likuiditas yang memadai dengan rasio pinjaman terhadap simpanan alias loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 70% akhir hingga 80% awal.
Kredit investasi menjadi kontributor utama ekspansi segmen korporasi, terutama pada industri manufaktur dan sektor terkait, seperti telekomunikasi, teknologi informasi (TI), minyak nabati, pertanian, serta petrokimia.
Sementara itu, pertumbuhan kredit UKM ditopang peningkatan kebutuhan modal kerja musiman. Namun, penyaluran kredit konsumer masih relatif lesu.
Salah satu penyebabnya adalah bisnis pembiayaan kendaraan bermotor yang belum menunjukkan pemulihan signifikan. Pelunasan kredit otomotif tercatat sekitar Rp 9 triliun – Rp 10 triliun per kuartal, lebih tinggi dibandingkan pembukuan kredit baru yang hanya berkisar Rp 6 triliun – Rp 7 triliun. Kondisi ini membatasi pertumbuhan outstanding kredit konsumer BCA.
Di pasar modal, ketidakpastian terkait MSCI masih menjadi salah satu risiko jangka pendek bagi pergerakan saham BBCA, terutama karena potensi tekanan jual dari investor asing.
Menurut estimasi manajemen, investor asing saat ini menguasai sekitar 67% saham beredar publik (free float) BCA. Angka tersebut turun dari sekitar 85% sebelum kekhawatiran terkait MSCI meningkat. Sementara itu, investor yang terkait dengan MSCI diperkirakan mencakup sekitar 11% dari free float perusahaan.
Meski demikian, investor aktif masih memiliki porsi kepemilikan yang lebih besar dibandingkan investor pasif.
Untuk menjaga nilai bagi pemegang saham, BCA juga masih menjalankan program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 5 triliun. Program tersebut berlanjut, termasuk melalui pembelian tambahan pada Oktober 2026.
Selain buyback, manajemen juga membuka peluang peningkatan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio). Namun, rencana tersebut masih memerlukan pembahasan internal lebih lanjut.
Baca Juga: KB Bank Tunda Penerbitan Obligasi Global US$ 300 Juta, Ini Pertimbangannya
Nurkholis menilai posisi permodalan BCA yang kuat memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan distribusi keuntungan kepada pemegang saham tanpa harus mengorbankan kapasitas penyaluran kredit.
Dari sisi kualitas aset, BCA masih menunjukkan ketahanan yang baik. Manajemen menyatakan belum melihat adanya potensi penurunan kualitas kredit korporasi secara material dalam waktu dekat.
Meski demikian, penyelesaian eksposur kredit terhadap salah satu perusahaan smelter nikel diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang. Hal ini seiring berlangsungnya pembahasan yang melibatkan calon investor baru.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BCA dilaporkan telah mempertahankan pencadangan dengan tingkat perlindungan (provisioning coverage) di atas 50% terhadap eksposur kredit tersebut.
Risiko juga menjadi perhatian dalam pengelolaan portofolio surat berharga pemerintah. Manajemen mengungkapkan hanya sekitar 1% dari portofolio surat berharga pemerintah BCA yang diklasifikasikan sebagai instrumen perdagangan (trading).
Selebihnya, portofolio tersebut mayoritas ditempatkan dalam kategori biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) dan nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain alias fair value through other comprehensive income (FVOCI).
Kerugian akibat penyesuaian nilai pasar (mark-to-market) pada surat berharga kategori FVOCI berpotensi menekan ekuitas yang dilaporkan secara temporer. Namun, manajemen tetap optimistis terhadap kemampuan permodalan BCA yang dinilai kuat serta strategi kepemilikan surat berharga untuk jangka panjang.
Memasuki 2027, manajemen BCA memperkirakan pertumbuhan kredit BCA akan relatif sebanding dengan proyeksi tahun ini. Dengan demikian, ekspansi volume bisnis diperkirakan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan laba perusahaan.
Baca Juga: Pemegang Saham Setujui Rights Issue BSI (BRIS), Perkuat Permodalan & Free Float
Adapun terkait margin bunga bersih alias net interest margin (NIM), manajemen belum memberikan panduan resmi untuk 2027. Namun, secara historis, margin BCA cenderung memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga acuan, meskipun transmisi perubahan suku bunga tersebut tidak selalu berlangsung secara sempurna.
Di luar pertumbuhan kredit, investasi berkelanjutan pada teknologi turut mendukung efisiensi operasional BCA. Rasio biaya terhadap pendapatan alias cost to income ratio (CIR) belakangan ini telah turun di bawah 30%.
Meski demikian, untuk keseluruhan 2026, CIR diperkirakan berada di sekitar 31%. Hal ini mempertimbangkan peningkatan biaya operasional musiman serta beban depresiasi.
Sebagai asumsi awal untuk 2027, manajemen memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2%–5,3%, sementara rupiah diproyeksikan mengalami depresiasi sekitar 3%–4%.
Secara keseluruhan, Nurkholis menilai keunggulan likuiditas, kualitas aset yang resilien, serta efisiensi operasional BCA yang terus membaik akan menjadi penopang pertumbuhan laba berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
