Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perbankan masih menghadapi tekanan.
Meski rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) turun tipis, kemampuan pelaku usaha dalam menjaga kelancaran pembayaran kredit masih menjadi tantangan.
Bank Indonesia (BI) mencatat, NPL kredit UMKM per Agustus 2026 sebesar 4,53%, hanya turun tipis dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 4,54%. Sementara itu, outstanding kredit UMKM tumbuh 2,29% secara tahunan menjadi Rp 1.532,19 triliun.
Penurunan rasio tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas debitur. Pasalnya, pertumbuhan outstanding kredit turut mendorong penurunan rasio NPL, meskipun nilai kredit bermasalah belum tentu berkurang secara signifikan.
Baca Juga: Kredit Macet UMKM Naik Jadi 4,54%, Begini Tanggapan OJK
Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai, penurunan NPL memang menjadi sinyal positif. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menunjukkan pemulihan kualitas kredit UMKM yang kuat.
"Risiko kenaikan NPL masih tinggi akibat tekanan daya beli, biaya operasional, persaingan usaha, dan lemahnya arus kas pelaku UMKM," kata Trioksa, Kamis (5/11/2026).
Tekanan kualitas kredit juga terlihat pada sejumlah bank besar. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mencatat NPL kredit UMKM sebesar 1,14% per September 2026, meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 0,99%.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah pertumbuhan portofolio kredit UMKM Bank Mandiri sebesar 11,2% menjadi Rp 91 triliun.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami peningkatan NPL kredit usaha kecil dari 3,6% menjadi 3,9%. Di sisi lain, penyaluran kreditnya tumbuh 6,1% menjadi Rp 78,9 triliun.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai kredit bermasalah UMKM meningkat dari Rp 3,53 triliun menjadi Rp 3,83 triliun.
Baca Juga: Kredit Macet UMKM Naik Jadi 4,54%, Bank Diminta Selektif Bersihkan Kredit Bermasalah
Namun, rasio NPL justru turun dari 2,77% menjadi 2,56%, seiring pertumbuhan portofolio kredit UMKM sebesar 15,4% menjadi Rp 149,2 triliun.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, perseroan menjaga kualitas kredit melalui seleksi debitur yang ketat, pemantauan berkala, edukasi pelaku usaha, serta penilaian kredit berdasarkan kapasitas masing-masing debitur.
Berbeda dengan ketiga bank tersebut, CIMB Niaga berhasil memperbaiki kualitas kredit UMKM. Rasio NPL bank ini turun dari 3,92% menjadi 3,62%, sementara portofolio kredit UMKM tumbuh 1,9% menjadi Rp 27,01 triliun.
Baca Juga: Sejumlah Bank Masih Bergulat dengan Kredit Macet Tinggi
Head of Emerging Business Banking CIMB Niaga Tony Tardjo mengatakan, perseroan menargetkan rasio NPL UMKM dapat turun menjadi 3,5% hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
