kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.343.000 -0,81%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Begini Respons Sejumlah Bank Digital Soal Kebijakan The Fed Tahan Suku Bunga


Jumat, 19 April 2024 / 07:00 WIB
Begini Respons Sejumlah Bank Digital Soal Kebijakan The Fed Tahan Suku Bunga
ILUSTRASI. The Fed penahanan suku bunga acuan federal fund rate (FFR) mereka di level 5,25%-5,55%. KONTAN/Carolus Agus Waluyo/10/03/2023.


Reporter: Aldehead Marinda | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. The Fed atau Bank Sentral Amerika menahan suku bunga acuan federal fund rate (FFR) di level 5,25%-5,55% dan masih akan berlanjut ke depannya.

Bank digital dalam negeri sebagai pihak yang memanfaatkan bunga sebagai salah satu strategi promo paling ampuh untuk menggaet nasabahnya justru tidak merasa terbebani akan hal tersebut.

BCA Digital sebagai salah satu bank digital di Indonesia menyikapi santai fenomena penahanan suku bunga The Fed tersebut serta menyebut akan fokus meningkatkan penyaluran kredit mereka.

Direktur Utama BCA Digital Lanny Budiati mengatakan BCA Digital tetap fokus mengikuti perkembangan ekonomi dalam negeri.

“BCA Digital senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merancang dan menjalankan strategi Bank dengan memperhatikan efektivitas dan efisiensi biaya.” ujar Lanny kepada Kontan (18/4).

Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, BCA Digital Fokus Tingkatkan Penyaluran Kredit

Lanny menambahkan bahwa sepanjang 2024 ini, BCA Digital akan lebih fokus untuk meningkatkan angka penyaluran kredit mereka. Di samping itu menguatkan inovasi dalam mengembangkan produk yang relevan serta meningkatkan kualitas pelayanan untuk mendorong transaksi nasabah.

Di sisi lain Bank Raya, pemain lain di bidang ini justru menyebut penahanan suku bunga tersebut akan lebih banyak berdampak pada sektor makro.

Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan “Perbankan sendiri sudah menyesuaikan sejak BI7DRR meningkat dari beberapa periode terakhir. Sehingga bank juga masih bisa meningkatkan produktivitasnya terutama pada sektor-sektor yang lebih stabil.” ujar Ida.

Menurut Ida, Bank Raya sudah melakukan review suku bunga secara berkala sesuai dengan ketentuan & kebijakan pemerintah serta kondisi pasar. Mereka sadar bahwa mengoptimalkan Net Interest Margin (NIM) setelah tekanan beberapa saat dari kondisi ekonomi yang dipengaruhi kondisi geopolitik, inflasi hingga kenaikan suku bunga jadi hal yang perlu difokuskan.

Tidak luput respons dari Allo Bank yang mengatakan bahwa secara proyeksi, Allo Bank justru lebih fokus pada prediksi terhadap BI Rate yang baru akan turun ke 5,25% menjelang akhir tahun 2024 mendatang.

“Berdasarkan proyeksi kami, BI Rate diprediksi baru akan turun ke 5,25% menjelang akhir tahun 2024. Kami pun masih on-track dalam kinerja operasional seperti tercermin dalam Laporan Keuangan yang kami publikasikan secara berkala di situs web www.allobank.com.” ujar Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo kepada Kontan (18/4).

Indra menyebut bahwa pendekatan mereka terkait cost of fund atau biaya dana mereka adalah untuk mengembangkan value proposition dari produk-produk pendanaan. Khususnya untuk produk berbiaya rendah seperti tabungan.

Allo Bank positif bahwa strategi kami menawarkan produk, layanan dan  customer engagement atau experience melalui mobile application secara keseluruhan mampu menciptakan retention dan ikatan yang kuat dengan nasabah.

Pandangan yang berbeda justru disampaikan oleh Analis pasar modal, Budi Frensidy kepada Kontan (18/4) menyebut bahwa besar atau kecil penahanan bunga acuan oleh The Fed akan menghambat kinerja bank digital di Indonesia. Menurutnya pertumbuhan kinerja bank itu memungkinkan tetapi kecil kemungkinannya.

“Saya pikir pertumbuhan mungkin tetap ada dengan semakin efisiennya operasional perusahaan tetapi semakin kecil dan mungkin juga stagnan karena masih tingginya biaya dana dan rendahnya CASA.” ujar Budi.

Budi menambahkan dalam hal ini biaya dana (cost of fund) akan sulit untuk ditekan karena bank digital masih harus terus menawarkan bunga tinggi. Hal tersebut dilakukan tidak lain adalah untuk menarik nasabah.

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Masih Tertahan, Kinerja Bank Digital Bakal Tersendat?

Kenaikan suku bunga yang ditawarkan bank digital inilah yang membuat laba bersih perusahaan kemudian sulit melonjak secara signifikan, pungkasnya.

Dilihat dari kinerja baik BCA Digital, Bank Raya maupun Allo Bank punya kekuatan mereka masing-masing dengan BCA Digital yang paling unggul di banyak sektor.

Untuk BCA Digital penyaluran kredit per Februari 2024 mencapai Rp 4,48 triliun, naik 37,8% secara YoY dari Rp 3,25 triliun pada periode yang sama tahun 2023. DPK mencapai Rp 9,3 triliun, naik 34% secara YoY dari Rp 6,94 triliun.

Pendapatan bunga bersih dua bulan pertama 2024 mencapai Rp 138,06 miliar, melonjak 84% YoY dari Rp 75,16 miliar. Terakhir laba bersihnya mencapai Rp 16,04 miliar, melesat dari Rp 910 juta pada dua bulan pertama tahun lalu.

Adapun Bank Raya alami penurunan nilai kredit sebesar 10,8% menjadi Rp 6,49 triliun per Februari 2024 ini. Nilai DPK sebesar Rp 8,06 triliun atau melorot 13,4% secara YoY. Dalam bulan pertama tahun ini. Bank Raya membukukan pendapatan bunga bersih Rp 90,93 miliar atau naik 16,1% YoY. Adapun laba bersihnya mencapai Rp 5,87 miliar, meningkat 113% secara tahunan.

Terakhir Allo Bank dengan penyaluran kredit mencapai Rp 7,04 triliun atau turun 4,9% secara YoY dan DPK hanya mencapai Rp 4,79 triliun atau turun 8,4% secara tahunan. Pendapatan bunga bersihnya dalam dua bulan pertama 2024 mencapai Rp 172,9 miliar, naik  13,18% YoY. Sehingga laba bersihnya masih tumbuh 38,4% secara tahunan menjadi  Rp 75,43 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×