kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

BI fasilitasi RTGS untuk Yen dan Yuan


Minggu, 12 April 2015 / 21:57 WIB
ILUSTRASI. Perusahan dengan rating rendah berpotensi kesulitan mencari pendanaan


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) siap membuka fasilitas sistem dan infrastruktur sistem pembayaran cepat untuk valuta asing (valas) melalui real time gross settlement (RTGS) untuk mata uang yen dan yuan. Rangkaian ini untuk menghadapi lalu lintas barang dan jasa antar negara untuk kegiatan ekspor dan impor.

Agus D.W Martowardojo Gubernur BI, mengatakan, fasilitas currency settlement ini untuk perusahaan yang membutuhkan layanan transaksi keuangan dalam mata uang selain dollar Amerika Serikat (AS). “Saya yakin ke depan transaksi dalam mata uang itu akan besar, karena kita banyak ekspor ke sana,” kata Agus, akhir pekan.

Menurut Ronald Waas, Deputi Gubernur BI, pihaknya sedang membahas mekanisme transaksi pembayaran ini dengan regulator Jepang dan Tiongkok. Opsinya apakah transaksi currency settlement ini menggunakan RTGS atau kliring. “Kami akan menyiapkan layanan ini kalau ada permintaan dari pasar,” ucap Ronald.

Layanan currency settlement ini akan menguntungkan bank karena transaksi melalui layanan bank. Royke Tumilaar, Direktur Korporasi Bank Mandiri, mengatakan, pihaknya mendukung keterbukaan fasilitas transaksi antar mata uang tersebut, karena Mandiri akan segera memperoleh izin pelayanan renminbi di kantor cabang Shanghai pada tahun ini.

“Ada potensi permintaan transaksi menggunakan renminbi,” kata Royke. Misalnya, potensi transaksi ritel melalui transfer dana (remintasi) dari negeri cabang Shanghai mencapai sekitar US$ 100 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×