kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.746   61,00   0,34%
  • IDX 6.566   -32,84   -0,50%
  • KOMPAS100 869   -5,10   -0,58%
  • LQ45 651   -0,26   -0,04%
  • ISSI 236   -1,74   -0,73%
  • IDX30 370   0,99   0,27%
  • IDXHIDIV20 456   0,74   0,16%
  • IDX80 100   -0,37   -0,37%
  • IDXV30 128   -0,30   -0,24%
  • IDXQ30 119   0,21   0,18%

Bank Pilih Parkir Dana di SRBI Saat Permintaan Kredit Melemah


Selasa, 19 Mei 2026 / 09:34 WIB
Bank Pilih Parkir Dana di SRBI Saat Permintaan Kredit Melemah
ILUSTRASI. Imbal Hasil SRBI Berada di Titik Tertinggi Dalam 9 Bulan Terakhir (Kontan/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penempatan dana perbankan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih melanjutkan tren kenaikan hingga empat bulan pertama tahun 2026. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan pasar keuangan, dan belum pulihnya permintaan kredit secara optimal.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kepemilikan perbankan di SRBI per April 2026 mencapai Rp 673,90 triliun. Angka tersebut tumbuh 22,73% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan posisi awal tahun 2026 sebesar Rp 589,42 triliun, maka terjadi kenaikan sekitar Rp 59,12 triliun.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai, lonjakan penempatan dana bank di SRBI menunjukkan sikap perbankan yang cenderung defensif dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.

Menurut Rizal, SRBI menjadi instrumen yang menarik karena menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko relatif rendah dibandingkan ekspansi kredit di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Persoalan utama saat ini bukan semata likuiditas, tetapi lemahnya confidence dunia usaha untuk berekspansi,” ujar Rizal kepada Kontan.co.id, Selasa (18/5/2026).

Baca Juga: Penjualan Rumah Lesu, Pertumbuhan KPR Melambat di Tengah Daya Beli Melemah

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit memang masih berlangsung, namun lebih banyak ditopang sektor BUMN dan sejumlah sektor tertentu. Sementara itu, sektor swasta masih cenderung bersikap wait and see akibat tekanan daya beli masyarakat, volatilitas rupiah, dan ketidakpastian ekonomi global.

Rizal mengingatkan, jika tren penempatan dana di SRBI terus berlanjut, maka fungsi intermediasi perbankan berpotensi melemah karena dana lebih banyak ditempatkan pada instrumen moneter dibandingkan disalurkan ke sektor riil.

“Dalam jangka pendek strategi ini memang membantu menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan, tetapi dalam jangka panjang bisa menahan investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Menurut Rizal, hingga akhir tahun tren penempatan dana di SRBI masih berpotensi tetap tinggi selama tekanan terhadap rupiah belum mereda dan suku bunga global masih berada pada level ketat.

“Selama instrumen moneter memberikan risk-return yang lebih menarik dibanding risiko kredit, perbankan akan tetap berhati-hati dalam ekspansi pembiayaan,” ujarnya.

Senada, Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk, Kunardy Lie mengatakan, perseroan juga mencatat peningkatan penempatan dana di SRBI sejalan dengan tren pasar saat ini.

Menurut Kunardy, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga likuiditas sekaligus mengoptimalkan pendapatan bunga di tengah kondisi global yang masih penuh tekanan.

“Hal ini didorong oleh kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, tingginya yield US Treasury, serta tensi geopolitik di Timur Tengah dan Asia,” ujar Kunardy.

Ke depan, KB Bank memperkirakan kepemilikan di SRBI masih akan dipertahankan sebagai buffer likuiditas sekaligus sumber pendapatan bunga sembari menunggu pemulihan permintaan kredit.

Selain SRBI, KB Bank juga mempertimbangkan instrumen lain seperti excess reserves Bank Indonesia dalam pengelolaan likuiditas perseroan.

Baca Juga: Laba Tumbuh Kontras, Cek Kinerja Bank Mandiri vs BCA di Awal Kuartal II-2026

Namun demikian, keputusan penempatan dana tetap disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas harian serta arah kebijakan Bank Indonesia yang fokus menjaga stabilitas rupiah.

“Strategi kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan penempatan pada instrumen likuid seperti SRBI,” katanya.

Kunardy menambahkan, strategi tersebut diperlukan agar likuiditas bank tetap kuat, pendapatan bunga tetap terjaga, serta bank memiliki fleksibilitas untuk segera mengalihkan dana ke kredit produktif ketika momentum pertumbuhan ekonomi semakin solid.

Per Maret 2026, surat berharga yang dimiliki KB Bank mencapai Rp 19,40 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 18,96 triliun.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan penempatan dana pada SRBI masih bersifat sementara sambil menunggu pertumbuhan kredit lebih optimal sepanjang tahun ini.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, kepemilikan SRBI perseroan saat ini relatif stabil dan tidak menjadi fokus utama penempatan dana jangka panjang.

“SRBI ini sebetulnya hanya tempat sementara sampai ada pertumbuhan kredit,” ujar Hendra.

Menurut dia, sebagian besar SRBI yang dimiliki BCA memiliki tenor pendek mulai dari 6 bulan, 9 bulan hingga 12 bulan. Seiring jatuh tempo instrumen tersebut, perseroan akan menyesuaikan kembali penempatan likuiditas sesuai kebutuhan ekspansi kredit.

“SRBI ini banyak juga yang jatuh tempo selama tahun ini. Jadi ada beli, ada juga yang jatuh tempo, sehingga posisinya relatif stabil,” katanya.

Hendra menegaskan, fokus utama BCA tetap berada pada pertumbuhan kredit. Oleh sebab itu, SRBI lebih difungsikan sebagai instrumen penyeimbang (balancing factor) untuk pengelolaan likuiditas sementara sebelum kredit disalurkan.

“Fokusnya tetap di pertumbuhan kredit. Jadi sambil menunggu kredit cair, sebagian dana ditempatkan ke SRBI,” jelasnya.

Baca Juga: Bank Asing Makin Agresif, Kuasai Hampir Seperempat Aset Perbankan Nasional

Ia menambahkan, perseroan tidak memiliki target khusus terkait kepemilikan SRBI karena instrumen tersebut lebih digunakan untuk menjaga fleksibilitas likuiditas bank di tengah dinamika penyaluran kredit.

Per Maret 2026, nilai surat berharga yang dimiliki BCA mencapai Rp 444,51 triliun atau setara 27,96% dari total aset perseroan.

Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, penempatan dana di SRBI justru telah jauh berkurang sepanjang setahun terakhir.

"Penempatan dana di SRBI sudah turun 30% secara tahunan (YoY). Mayoritas likuiditas kami arahkan ke fee income lewat wealth management,” jelas Lani.

Mengacu pada laporan keuangan per Maret 2026, surat berharga yang dimiliki CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 81,96 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 74,74 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×