kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

BI mengklaim likuiditas valas perbankan masih aman


Selasa, 29 November 2011 / 15:54 WIB
ILUSTRASI. Pemprov DKI akan uji emisi gratis di Jakarta mulai besok, Rabu (6/1), ini lokasinya


Reporter: Astri Kharina Bangun |

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan likuiditas valuta asing (valas) di perbankan dan risiko utang luar negeri korporasi (swasta) dalam negeri masih terbilang aman.

"Kondisi perbankan kita sangat solid. Eksposur perbankan ke Eropa sangat kecil. Utang luar negeri swasta ke Eropa juga kecil, khususnya ke negara-negara yang sedang mengalami krisis," ujar Direktur Riset dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo, Selasa (29/11).

Ia mengungkapkan, per September 2011 total uang luar negeri swasta ke Eropa sebesar US$ 21,5 miliar dari total utang luar negeri swasta sebesar U$ 90,1 miliar. Dari total US$ 21,5 miliar tersebut, sebagian besar atau sekitar US$ 19,9 miliar merupakan perjanjian pinjaman (loan agreement) sedangkan sisanya sebesar US$ 0,8 miliar merupakan trade financing.

Adapun dari segi negara kreditur didominasi Belanda sebanyak US$ 13,5 miliar, Inggris sebesar US$ 2,1 miliar, Jerman sebesar US$ 1,4 miliar, dan Prancis sebesar US$ 0,4 miliar.

"Ke negara-negara yang mengalami krisis PIGS termasuk Italia relatif kecil, hanya US$ 93,7 juta. Sebagian besar kreditur adalah negara-negara yang cukup kuat menghadapi Eropa," kata Perry.

Sementara itu, dilihat dari devisa neto (aspek aset dikurangi kewajiban) rata-rata industri perbankan besarnya 2,7% dari modal. Melihat angka ini, BI menyimpulkan likuiditas bank-bank di dalam negeri belum mengalami tekanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×