kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

BI Rate Naik Lagi, Target Pertumbuhan Kredit UMKM Terancam Meleset


Rabu, 10 Juni 2026 / 17:23 WIB
BI Rate Naik Lagi, Target Pertumbuhan Kredit UMKM Terancam Meleset
ILUSTRASI. Kredit UMKM: Perajin ondel-ondel di Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Baru juga kredit di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berhasil membalik koreksi dengan angka pertumbuhan, namun sayangnya, era suku bunga tinggi kembali datang. Alhasil, target pertumbuhan yang dipatok regulator berpotensi sulit tercapai.

Pelemahan rupiah yang di luar perkiraan membuat Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tak biasa. Suku bunga acuan (BI Rate) dinaikkan 25 bps menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Senin (9/6/2026) kemarin, melanjuti kenaikan sebesar 50 bps yang diumumkan pada RDG bulanan Mei 2026 lalu. 

Padahal, era suku bunga rendah sejatinya belum berjalan lama. Baru delapan bulan sejak BI Rate dipatok di level 4,75% pada September 2025, pun dalam periode ini transmisi ke suku bunga kredit masih terbatas dari 9,2% pada September 2025 menjadi 8,73% pada April 2026. 

Baca Juga: Asippindo Nilai Kenaikan BI Rate Berpotensi Tingkatkan Klaim Industri Penjaminan

Di luar itu, nyatanya kredit UMKM masih tersendat di tengah penurunan suku bunga kredit.

Sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026, kredit UMKM rutin mencatatkan koreksi. Baru pada Maret 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit UMKM berhasil tumbuh, meski terbatas 0,12% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan berlanjut naik 0,16% yoy pada April 2026. 

Namun capaian itu masih sangat jauh dari target pertumbuhan yang dipatok OJK di rentang 7%–9% hingga akhir tahun nanti. Sementara dengan meningkatnya BI Rate, maka potensi kenaikan bunga kredit UMKM kembali terbuka dan berisiko menekan permintaan. 

Menyadari itu, Bank Sampoerna yang fokus pasarnya UMKM bakal berhati-hati dalam merespons kenaikan BI Rate. 

Direktur Finance and Business Planning Bank Sampoerna Hengky Suryaputra bilang pihaknya berkomitmen untuk tak serta-merta menaikkan suku bunga kredit secara drastis. Ia memastikan, penyesuaian bunga kredit dilakukan secara selektif berdasarkan profil risiko nasabah. 

“Biasanya proses transmisi suku bunga acuan ke bunga kredit memerlukan waktu sekitar tiga sampai enam bulan. Kami memanfaatkan momentum ini untuk melakukan evaluasi mendalam agar tidak memberatkan likuiditas pelaku usaha,” ujar Hengky kepada Kontan, Rabu (10/6/2026). 

Saat ini, Hengky bilang pelaku usaha cenderung bersikap lebih berhati-hati (wait and see). Sejalan dengan itu, terjadi moderasi atau penurunan permintaan kredit baru dari segmen UMKM karena tingginya biaya modal di pasar. 

Ia mengungkapkan bahwa hingga kuartal I-2026, 59% portofolio kredit Bank Sampoerna masih diisi UMKM. Namun, fokus utama bank di sisa tahun ini tak sekadar mengejar nilai kuantitatif, melainkan juga menjaga kualitas pinjaman. 

Hengky bilang langkah ini krusial, mengingat rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) segmen UMKM industri perbankan nasional masih mengkhawatirkan. Di Bank Sampoerna sendiri, NPL gross kredit masih di level 4,51%, relatif turun dari 4,81% pada tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Ketidakpastian Ekonomi Dikhawatirkan Berdampak terhadap Kinerja Pembiayaan

Bank Sampoerna juga melihat target pertumbuhan kredit UMKM nasional sebesar 7%–9% cukup menantang. Apalagi, jika daya beli masyarakat, yang menjadi motor utama kinerja pelaku usaha UMKM, tak kunjung membaik. Dalam kondisi ini, kebijakan insentif masih memainkan peran penting untuk menopang kinerja kredit UMKM. 

Andalkan Tawaran Khusus

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) mencoba menjaga laju pertumbuhan kredit UMKM melalui program dan penawaran khusus. 

Di antaranya dengan menghadirkan program kredit multiguna usaha khusus untuk pengusaha perempuan atau usaha dengan mayoritas karyawan perempuan, serta suku bunga spesial bagi kredit UMKM berbasis lingkungan sosial dan tata kelola (LST).

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengaku pihaknya meninjau tingkat suku bunga secara berkala. Namun, penyesuaian bakal dilakukan di level yang dapat diterima pasar dengan turut memperhatikan daya beli masyarakat. 

Dengan begitu, bank dapat mengoptimalkan penyaluran kredit ke berbagai sektor, termasuk UMKM, secara pruden dan dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam manajemen risiko.  

“Ke depan, kami melihat kinerja industri perbankan sejalan dengan kondisi perekonomian,” katanya. 

Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) masih optimistis segmen UMKM mampu tumbuh solid di tengah kondisi yang dinamis. Tentunya, kata Sekretaris Perusahaan BSI Wisnu Sunandar, hal itu juga harus diiringi dengan ekspansi pembiayaan yang masif dan solid. 

Baca Juga: Banyak Asuransi Spin-off UUS dengan Dirikan Perusahaan Baru, Ini Kata AASI

Namun, ia mengaku penyaluran tetap perlu menjaga prinsip kehati-hatian agar tepat sasaran. Nah untuk memperkuat UMKM naik kelas, BSI juga menempuh sejumlah langkah strategis seperti pendampingan usaha, pelatihan dan business matching. 

Hingga April 2026, pembiayaan UMKM BSI mencapai Rp 54,01 triliun atau setara kisaran 16,28% terhadap total pembiayaan BSI secara keseluruhan. Dengan adanya kebijakan kenaikan BI Rate yang bertujuan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi nasional, ia berharap kinerja bisa tetap melaju. 

“Adanya kebijakan ini juga diharapkan bisa memberikan multiplier effect terhadap penyaluran pembiayaan yang kompetitif sehingga mampu menjangkau nasabah yang luas,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×