kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

BI: Upaya menekan inflasi bisa berdampak buruk pada ekonomi


Minggu, 20 Februari 2011 / 08:46 WIB
Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana Banguningsih Pramesti


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

BANDUNG. Bank Indonesia (BI) menilai, upaya menekan inflasi inti atau core inflation dari 4,1% menjadi 3,1% akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, kebijakan tersebut akan memicu suku bunga acuan atau BI rate naik lebih tinggi.

"Jika inflasi inti ditekan hingga 3,1%, maka kemungkinan BI rate bisa lebih dari 6,75%," kata Endy Dwi Tjahyono, Direktorat Riset Ekonomi & Kebijakan Moneter BI, kemarin (19/2). Endy bahkan memprediksi, kenaikan BI rate nantinya bisa melebihi 50 basis poin. Jika itu terjadi, kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah 6%.

Memang, ada alternatif lain yang bisa dilakukan. Yakni, dengan mendorong produksi nasional. Artinya, jika permintaan dan tingkat prdouksi tinggi, maka hal itu akan menyebabkan harga di dalam negeri akan turun.

Namun, BI masih pesimistis dengan alternatif ini. Sebab, kapasitas industri saat ini sudah hampir maksimal. Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas dibutuhkan investasi yang sangat besar.

Pernyataan Endy tersebut menanggapi pernyataan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro. Sebelumnya Bambang menghimbau, agar bank sentral menekan inflasi inti dari 4,1% menjadi 3,1%. Dengan demikian, lanjut Bambang, pemerintah akan lebih mudah mencapai target inflasi di level 5,3%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×