Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ada sinyal perpindahan sumber pendanaan korporasi dari kredit perbankan ke penerbitan surat utang (obligasi) tahun lalu, seiring lambatnya penurunan suku bunga kredit. Namun begitu, perbankan masih optimistis penyaluran kredit modal kerja dapat tumbuh positif tahun ini.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat terjadi lonjakan hingga 89,9% secara tahunan di penerbitan surat utang korporasi pada 2025 lalu, dengan nilainya mencapai Rp 284,3 triliun.
Pefindo melihat tren ini salah satunya didorong oleh faktor biaya dana obligasi yang cenderung murah, terkhususnya jika dibandingkan dengan biaya dana kredit perbankan. Maklum, tahun lalu imbal hasil obligasi turun hampir 100 bps menjadi 6,07% dari level 7% pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT Sapta Pirsa Mandiri Loss Adjuster
Sebagai perbandingan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga kredit modal kerja perbankan hanya turun 50 bps ke posisi 8,2% dari 8,7% pada tahun sebelumnya.
Belum lagi, secara skema, pembayaran obligasi lebih memudahkan korporasi dalam situasi ekonomi yang kurang kondusif. Pasalnya, pada obligasi, tiap bulan korporasi hanya perlu membayar cicilan kupon, tak seperti kredit yang perlu membayarkan cicilan pinjaman pokok lengkap dengan bunganya.
Pun sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit modal kerja mengalami perlambatan sepanjang tahun lalu, dengan level pertumbuhan cuma 4,4% secara tahunan. Sebagai perbandingan, pada Desember 2024 pertumbuhan kredit modal kerja mencapai 6,8% secara tahunan.
Namun begitu, bank nampaknya masih optimistis korporasi bakal lebih masif mengambil kredit tahun ini. Toh, kinerja tahun lalu cukup menggembirakan.
Misalnya pada Bank Central Asia (BCA), yang hingga akhir 2025 lalu masih berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,9% secara tahunan menjadi Rp 439,8 triliun, di atas tren industri.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut, pada dasarnya tren penyaluran kredit sejalan dengan kondisi perekonomian. Pun, pihaknya berharap pertumbuhan kredit modal kerja tahun ini tetap dalam tren positif.
Baca Juga: Ini Respons Asei Soal Danantara Bakal Lakukan Konsolidasi Asuransi BUMN
Secara umum, kata Hera, BCA optimistis dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor. “Tentunya dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Tak jauh berbeda, Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI) Wisnu Sunandar mengaku optimistis kinerja pembiayaan, khususnya di segmen produktif, bakal tumbuh solid. Meskipun, tahun lalu pembiayaan wholesale BSI tercatat turun menjadi Rp 9,9 triliun dari posisi Rp 10,9 triliun pada tahun sebelumnya.
Namun, tahun ini Wisnu bilang pihaknya mencermati sinyal positif peningkatan daya beli seiring masifnya stimulus insentif dan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan industri.
Pun, BSI berkomitmen menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif, fleksibel, dan sesuai prinsip syariah untuk membantu para pelaku usaha meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, serta memperkuat struktur permodalan.
“Pembiayaan produktif menjadi salah satu fokus utama BSI dalam meningkatkan kontribusi terhadap sektor riil,” kata Wisnu.
Selanjutnya: Perputaran Uang Haji Rp 40 Triliun, Pemerintah Dorong Transaksi dengan QRIS
Menarik Dibaca: Makuku Luncurkan Comfort Fit, Popok Tipis Anti Bocor untuk Anak Aktif Sepanjang Hari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)