kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Biaya Kesehatan Naik Lebih Tinggi Dibanding Inflansi, Allianz Lakukan Repricing


Rabu, 13 September 2023 / 16:26 WIB
Biaya Kesehatan Naik Lebih Tinggi Dibanding Inflansi, Allianz Lakukan Repricing
ILUSTRASI. Workshop Allianz seputar biaya kesehatan yang naik pada Rabu (13/9)


Reporter: Francisca Bertha Vistika | Editor: Francisca bertha

KONTAN.CO.ID - Biaya kesehatan terus meningkat, Allianz mengajak masyarakat untuk cerdas dan bijak dalam mnegatur strategi merancang biaya kesehatan. Walaupun di satu sisi Allianz harus melakukan repricing karena kenaikan biaya pengobatan ini. 

Asia Pacific Personal Habits Survey 2022, menunjukan bahwa pasca pandemi banyak orang mencari pengobtan dan meningkatnya permintaan perawattan di rumah sakit. Hal ini dilatarbelakangi oleh gaya hidup masyarakat selama pandemi yang tidak sehat, khususnya pada Gen Z dan milenial. Kondisi ini meningkatkan timbulnya penyakit seperti obesitas maupun penyakit metabolik.

Padahal di satu sisi biaya medis terus meningkat. Survei dari Mercer Marsh Benefits (MMB) 2021-2023 tentang Estimated Medical Trend Summary menjelaskan peningkatan inflasi medis di Indonesia selama 3 tahun terakhir mencapai 13,6% pada tahun 2023 dari sebelumnya sebesar 12.3% di tahun 2022. Nilai ini lebih tinggi dari proyeksi Asia di angka 11,5%. 

Baca Juga: Allianz Indonesia Sebut Kenaikan Penyaluran KPR Mendongkrak Asuransi Properti

Bahkan angka inflasi medis ini melebihi inflasi ekonomi di angka 3.3% per Agustus 2023. Itu artinya inflasi medis mencapai 4X lipat dari inflasi ekonomi. Adpaun inflansi ini dipengaruhi oleh biaya operasional, suplai, administrasi dan fasilitas kesehatan.

Himawan Purnama, Chief Product Officer, Allianz Life Indonesia mengatakan bahwa dalam menghadapi kenaikan biaya medis masyarakat perlu mempersiapkan yang terbaik, terlebih saat risiko kesehatan datang. Salah satunya dengan memiliki proteksi tambahan melalui produk asuransi kesehatan.

Di satu sisi, perusahaan asuransi pun juga sebenarnya terdampak dnegan kenaikan biaya medis yang menyebabkan meningkatnya pembayaran klaim secara drastis sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian biaya atau repricing. 

Repricing dilakukan dengan melalui berbagai pertimbangan yang menyeluruh dan proses yang panjang. Adapun untuk perubahan produk, termasuk penyesuaian biaya juga melibatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk kepentingan dan keamanan nasabah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Baca Juga: Kantongi Izin Usaha dari OJK, Allianz Syariah Resmi Pisah dari Allianz Life

Menurut Metta Anggriani, Perencana Keuangan & Founder Daya Uang mengelola keuangan dengan baik adalah cara yang paling utama dalam menyiasati kenaikan biaya medis. "Masyarakat perlu mengatur budget dan membuat pos-pos kebutuhan untuk menjaga kesehatan setiap bulannya, termasuk menambah dana darurat,” kata Metta dalam Workshop Media Allianz yecara daring pada Rabu (13/9) yang dihadiri oleh KONTAN. 

Selain itu, Metta juga mengingatkan masyarakat untuk memastikan diri dan keluarga terdaftar menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan yang aktif seperti BPJS, dan juga melakukan evaluasi berkala terhadap kondisi kesehatan (Medical Check Up) dan keuangan (Financial Check Up) maupun produk-produk asuransi yang dimiliki.

Namun sayangnya, terjadinya peningkatan biaya medis ini belum membuat masyarakat Indonesia menyiapkan sumber pendanaan untuk biaya kesehatan agar tidak menjadi beban pengeluaran pribadi. 

Baca Juga: Asuransi Jiwa Meninggalkan Premi Tunggal

Buktinya, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), hingga tahun 2019 menunjukan 61% dari total masyarakat Indonesia masih membayar biaya perawatan kesehatan secara mandiri memakai uang pribadi tanpa jaminan dari BPJS maupun asuransi. Salah satu penyebabnya adalah karena tren kenaikan biaya medis melebihi kenaikan rata-rata gaji masyarakat. 

Padahal Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukan rata-rata gaji karyawan sebesar 1,8%. "Sangat jauh jika dibandingkan dengan proyeksi inflasi ekonomi pada tahun 2023 yang mencapai 3,5% apalagi inflasi medis yang mencapai 13,6%," imbuh Metta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×