Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik di Timur Tengah akibat perang antara Iran dan koalisi AS–Israel meningkatkan risiko bisnis pengangkutan, sehingga berpotensi mendorong lonjakan klaim asuransi di lini tersebut.
PT Asuransi Asei Indonesia menyatakan, perusahaan asuransi biasanya akan menerapkan kombinasi strategi teknis untuk mengantisipasi risiko klaim yang meningkat.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, strategi tersebut meliputi prudent underwriting dan penetapan syarat pengecualian risiko.
Baca Juga: Penggunaan Pindar Tak Hanya Menopang Kebutuhan Konsumtif
Setiap rute akan dinilai menggunakan risk rating secara real-time, khususnya untuk wilayah berisiko tinggi.
"Selain itu, kami menetapkan syarat tambahan seperti war risk, terrorism risk, dan sanctions exclusion, yang artinya klaim tertentu akibat perang bisa dikecualikan. Kami juga menaikkan deductible, surplus share, atau co-insurance untuk memitigasi eksposur besar," ujar Dody kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).
Dody menambahkan, perusahaan asuransi biasanya menentukan listed areas dan kewajiban pemberitahuan (notification obligations).
Pemegang polis wajib memberi tahu saat transit melalui area risiko yang ditetapkan oleh Joint War Committee atau underwriter. Jika tidak, polis asuransi bisa void atau disesuaikan.
Strategi lain yang diterapkan termasuk diversifikasi portofolio dan fokus pada pertanggungan domestik.
Baca Juga: Cara Bank Saqu Bantu Nasabah Hadapi Ancaman Hantu Siber
Underwriting akan cenderung memilih rute yang lebih aman untuk mengurangi volatilitas klaim, termasuk memperluas perdagangan di Asia atau Eropa yang tidak memerlukan transit melalui chokepoints seperti Selat Hormuz.
Selain itu, perusahaan asuransi dapat memanfaatkan reasuransi dan risk sharing, baik melalui perjanjian treaty maupun facultative, untuk menanggung sebagian risiko perang yang tinggi.
Monitoring dan intelijen risiko juga dilakukan melalui risk intelligence feeds, peringatan maritim, dan analitik untuk mendukung keputusan underwriting.
Di pasar global, industri asuransi marine biasanya menyesuaikan tarif premi untuk wilayah berisiko tinggi setelah eskalasi konflik. Untuk rute normal atau di luar area konflik, premi war risk relatif rendah.
Namun, untuk wilayah konflik Timur Tengah atau sekitar Selat Hormuz, premi bisa meningkat minimal dua kali lipat. Dalam insiden ekstrem, premi untuk transit wilayah konflik bahkan bisa lebih tinggi dibanding rute standar.
Baca Juga: BTN Tetap Luncurkan Obligasi Tahun Ini Meski Dapat Likuiditas Tambahan, Ini Alasannya
"Selain premi, terkadang ada war/strife surcharges yang diminta shipping line, bisa mencapai beberapa ribu dolar AS per kontainer. Ini bukan premi polis, tapi mencerminkan tekanan biaya risiko di rantai distribusi," jelas Dody.
Meski begitu, portofolio asuransi marine cargo Asei untuk rute Timur Tengah tidak terlalu signifikan, sehingga eksposurnya relatif rendah.
Banyak perusahaan asuransi di Indonesia lebih memilih menghindari risiko tinggi di zona konflik, atau membatasi limit dan menerapkan seleksi risiko ketat.
Beberapa fokus pada perdagangan domestik atau rute yang lebih aman untuk menjaga portofolio tetap terkendali.
Berdasarkan laporan keuangan resmi, Asuransi Asei membukukan pendapatan premi sebesar Rp 674,17 miliar per akhir 2025, dengan aset tercatat Rp 2,69 triliun dan ekuitas Rp 361,26 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













