kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Bisnis Paylater Melonjak 24,2% pada Maret 2026, Bank Perlu Waspadai Risiko Kualitas


Minggu, 10 Mei 2026 / 22:11 WIB
Bisnis Paylater Melonjak 24,2% pada Maret 2026, Bank Perlu Waspadai Risiko Kualitas
ILUSTRASI. Penyaluran Kredit (KONTAN/Baihaki). Data OJK Maret 2026 tunjukkan baki debet paylater bank tembus Rp28,3 triliun. Simak strategi bank dan ancaman NPL yang mengintai di baliknya!


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan semakin kencang memacu pertumbuhan bisnis buy now pay later (BNPL). Di tengah gejolak ekonomi saat ini, bisnis paylater dinilai bisa jadi solusi baru bagi bank untuk menyalurkan kredit.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet BNPL bank pada Maret 2026 tumbuh 24,2% secara tahunan menjadi Rp 28,3 triliun.

OJK juga mencatat adanya kenaikan jumlah pengguna BNPL bank. Hingga Maret 2026, jumlah rekening pengguna BNPL bank mencapai 30,81 juta nasabah, naik dibandingkan posisi Februari 2026 yang sebanyak 30,55 juta nasabah.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai, data pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi masyarakat terhadap layanan BNPL perbankan. 

Baca Juga: Bank Danamon Masih Kaji untuk Masuk ke Bisnis Paylater

Menurut Rahma, pertumbuhan ini juga dipicu oleh beberapa pergeseran fundamental dalam ekosistem keuangan bank.

Pertama, Rahma menilai ekosistem superapp milik setiap bank sudah memasuki fase matang tahun ini. Lewat superapp, bank bisa memasukkan berbagai macam fitur, termasuk juga BNPL untuk digunakan secara instan.

"Kemudahan akses ini hanya butuh beberapa klik aja, sehingga dapat menghilangkan hambatan psikologis dan administrasi yang biasanya ada pada kartu kredit konvensional," kata Rahma kepada Kontan.

Selain itu, sifat BNPL yang mengakomodasi kebutuhan transaksi konsumsi harian sejalan dengan tren kehidupan Gen Z dan Milenial saat ini.

Di mana mereka cenderung lebih menyukai fleksibilitas transaksi nominal kecil yang pada dasarnya tidak bisa diakomodasi kredit konvensional.

Rahma juga menilai perbankan bisa mengembangkan BNPL lebih agresif dari perusahaan fintech. Pasalnya, bank memiliki biaya dana (cost of fund) yang jauh lebih rendah, sehingga bisa menawarkan bunga lebih kompetitif.

"Skema paylater seringkali dipasarkan sebagai alat manajemen arus kas daripada utang, sehingga masyarakat merasa lebih nyaman menggunakannya," ucapnya.

Baca Juga: Jadi Sumber Pertumbuhan Baru, Bank Kian Serius Tumbuhkan Bisnis Paylater

Ke depannya, Rahma menilai potensi pertumbuhan BNPL bank masih sangat besar. BNPL umumnya memiliki margin untung yang cukup besar sehingga bisa mendorong pemasukan bank di saat kredit konvensional susah diserap.

Rahma juga menyebut bank bisa menggunakan BNPL untuk cross-selling produk kredit lain, seperti kredit perumahan rakyat (KPR) atau kredit kendaraan bermotor (KKB). 

Akan tetapi, BNPL juga memiliki risiko. Rahma menyebut BNPL pada dasarnya adalah kredit tanpa agunan yang secara otomatis meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bank.

Baca Juga: Waspada Lonjakan NPL Pasca Lebaran, Bank Perketat Manajemen Risiko

"Jika pertumbuhan ini didominasi oleh nasabah yang menggunakan paylater untuk kebutuhan konsumtif tanpa kenaikan pendapatan yang sepadan, maka perbankan sebenarnya sedang menumpuk "kerapuhan" di neraca mereka," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×