kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Bisnis Paylater Perbankan Masih Tumbuh Subur, Bank Digital Masih Unggul


Jumat, 06 November 2026 / 18:35 WIB
Bisnis Paylater Perbankan Masih Tumbuh Subur, Bank Digital Masih Unggul
ILUSTRASI. Penggunaan Paylater (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penggunaan paylater yang kian masif di tengah masyarakat tercermin dari pertumbuhan bisnis buy now pay later (BNPL) perbankan. Menariknya, ada perbedaan tren pada bank konvensional dan bank digital. 

Hingga September 2026, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp 31,5 triliun, tumbuh 26,68% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hasil ini agak melambat dari pertumbuhan 29,1% yoy pada bulan sebelumnya. 

Seiring dengan itu, jumlah rekening BNPL mencapai 34,5 juta. Maka, rata-rata baki debet per satu rekening paylater kisaran Rp 913.043. 

Baca Juga: Krom Bank Bukukan Laba Bersih Rp 157,91 Miliar hingga September 2026

Tren positif ini tercermin salah satunya di Allo Bank. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo bilang bisnis Allo PayLater terus tumbuh dengan sehat sepanjang tahun ini, baik dari segi baki debet maupun jumlah pengguna. 

“Baki debet paylater kami mencatatkan pertumbuhan lebih dari 20% secara tahunan,” katanya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026). Seiring itu, jumlah penggunanya telah lebih dari 2,3 juta nasabah. 

Lebih dari pertumbuhan itu, Destya bilang kualitas penggunaan produk ini juga semakin baik, dengan utilisasi dan frekuensi transaksi yang terus meningkat. Mayoritas transaksi berasal dari kebutuhan sehari-hari. Dari situ, pihaknya melihat paylater kini menjadi instrumen pembayaran harian yang digunakan berulang, bukan sekadar fasilitas untuk pembelian sesekali.

Kualitas kreditnya juga dipastikan terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di level rendah. Hal ini tak lepas dari underwriting berbasis data berdasarkan perilaku transaksi nasabah di ekosistem grup, pemberian limit yang disesuaikan profil risiko nasabah, pemantauan real-time, hingga pencadangan yang sejalan dengan pertumbuhan kredit.

Allo Bank memandang prospek bisnis paylater ke depannya tetap positif. Selain lantaran adopsi pembayaran digital terus meluas dan merchant serta use case dalam ekosistem Allo Bank terus bertambah, momentum belanja akhir tahun bakal menjadi katalis positif. Lagipula, ruang pertumbuhan di industri juga masih besar. Bank mematok baki debet paylater tetap tumbuh dua digit hingga akhir 2026. 

“Basis pengguna aktif, frekuensi transaksi, dan utilisasi juga kami targetkan terus meningkat. Fokus kami bukan sekadar mengejar volume, tetapi memastikan setiap pertumbuhan tetap sehat dan berkualitas,” imbuh Destya.

Baca Juga: Asing Serok Saham Big Banks Jelang Review MSCI, Ini Rekomendasinya

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) mencatat baki debet paylater sebesar Rp 331,8 miliar per September 2026, turun tipis 2,98% yoy. Namun begitu, jumlah penggunanya masih tumbuh 8,2% yoy menjadi kisaran 200 ribu nasabah.

Kendati begitu, secara umum EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn bilang kinerja produk BNPL bank menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Meski outstanding kredit berkurang, pihaknya melihat terjadi pertumbuhan transaksi paylater, terutama untuk kebutuhan transaksi ritel serta mobilitas dan konsumsi nasabah. 

“Tren itu didukung juga oleh penyelenggaraan berbagai acara serta program menarik yang kami sediakan untuk nasabah,” sebut Hera.

Secara kualitas kredit, Hera memastikan NPL paylater BCA terjaga dengan baik, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin dan terjaganya level NPL bank secara umum. Sebagai gambaran, NPL BCA terpantau turun menjadi 1,79% dari 2,1% pada tahun sebelumnya. Pun, pihaknya berharap kualitas portofolio produk paylater tetap terjaga di level manageable.

Secara umum, paylater BCA hadir untuk memberikan layanan pembayaran yang fleksibel serta memastikan keuangan nasabah tetap terkelola dengan baik dan dapat digunakan untuk transaksi dengan menggunakan QRIS, dan pengajuannya dilakukan melalui aplikasi myBCA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×