Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA. Bank Negara Indonesia (BNI) optimis pertumbuhan kredit ekspor di 2014 lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit impor. Hal ini dipengaruhi pelemahan nilai tukar Rupiah serta penerapan pajak impor oleh pemerintah.
Menurut Abdullah Firman Wibowo, Pemimpin Divisi Internasional BNI, meyakini kredit ekspor akan tumbuh cukup tinggi. Hal ini terlihat dari pertumbuhan volume transaksi ekspor BNI per November 2014 yang tumbuh sekitar 14,5% (YoY).
“Sejauh ini, volume ekspor kami hampir didominasi 85% oleh debitur yang diberikan fasilitas dari unit kredit, begitu juga untuk kredit impor, melihat dari pertumbuhan volume transaksi impor saya rasa akan tumbuh mungkin dalam kisaran 1-2%, tidak sebesar pertumbuhan kredit ekspor,” kata Firman saat dihubungi KONTAN, Rabu (7/1).
Firman mengakui sepanjang tahun lalu, prospek kredit impor memang tak sebagus kredit ekspor. Menguatnya mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah mendongkrak pertumbuhan kredit ekspor. “Sebab merupakan opportunity bagi eksportir untuk meningkatkan revenue terutama bagi eksportir yang memiliki barang ekspor dengan kandungan lokal yang cukup besar,” ujar Firman.
Di sisi lain. para importir cenderung menahan impor karena akan membutuhkan Rupiah yang besar untuk membayar barang impor. “Ditambah kebijakan pemerintah meningkatkan pajak impor juga berhasil menahan laju pertumbuhan impor sehingga secara langsung berpengaruh terhadap pemberian kredit impor di BNI,” pungkas Firman.
Sampai akhir November 2014, transaksi ekspor di BNI mengalami pertumbuhan volume transaksi sebesar 14.5% secara year on year (yoy) dari US$ 12,18 miliar di November 2013 menjadi US$ 13,94 miliar di November 2014. Sedangkan impor tumbuh 3,7% secara yoy dari US$ 13,38 miliar per November 2013 menjadi US$ 13,87 miliar per November 2014.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













