Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyiapkan sejumlah aksi korporasi pada 2026 dengan target menghimpun dana hingga Rp 6 triliun. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat permodalan sekaligus menopang ekspansi bisnis, khususnya penyaluran kredit perumahan.
Penghimpunan dana tersebut akan dilakukan melalui dua skema. Pertama, BTN berencana menerbitkan modal Tier II senilai Rp 2 triliun pada semester I-2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan penerbitan ini diharapkan dapat menarik minat investor institusi.
“Penerbitan Tier II capital ini nanti kita harapkan juga dibeli Danantara,” ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI.
Kedua, BTN akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 4 triliun yang dijadwalkan antara semester I hingga paruh kedua 2026.
Baca Juga: Sejumlah Emiten Siap Tebar Dividen Interim di Oktober, Cek Rekomendasi Analis
Penerbitan obligasi ini ditujukan untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit, seiring peran BTN sebagai bank utama pembiayaan sektor perumahan.
Dari sisi kinerja, BTN menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran 8%–9%. Target tersebut masih berpeluang dinaikkan mengikuti arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengingat realisasi pertumbuhan kredit BTN pada tahun sebelumnya mencapai 12%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan tumbuh 7%–8%.
BTN juga menyiapkan pengembangan bisnis melalui pembentukan anak usaha. Pada semester II-2026, perseroan berencana mendirikan anak usaha asuransi umum dengan nilai investasi sekitar Rp250 miliar.
Selain itu, BTN akan membentuk anak usaha perusahaan pembiayaan dengan aset awal diperkirakan Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun.
Baca Juga: CPIN Kantongi Laba Rp 1,9 Triliun di Semester I-2025, Cek Rekomendasi Analis
Untuk target profitabilitas, BTN memasang sasaran agresif dengan membidik pertumbuhan laba bersih 20%–22% pada 2026.
Manajemen menilai target ini masih realistis seiring perbaikan kualitas aset. BTN memperkirakan cost of credit (CoC) berada di kisaran 1%–1,2%, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) dijaga di bawah 3%.
Analis Investasi Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai prospek BTN pada 2026 cukup menarik, meski sangat bergantung pada eksekusi strategi.
Menurutnya, target pertumbuhan kredit masih realistis karena ditopang kekuatan BTN di kredit pemilikan rumah (KPR) serta dukungan kebijakan pemerintah di sektor perumahan.
Dari sisi pendanaan, Ekky menilai target cost of fund (CoF) cukup menantang, namun masih memungkinkan jika pertumbuhan DPK sesuai rencana dan biaya pendanaan wholesale tetap efisien.
Baca Juga: Bea Ekspor Diproyeksi Jadi Beban Tambahan Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Analis
Penerbitan obligasi Rp4 triliun dinilai dapat menopang likuiditas, meski pasar akan mencermati biayanya karena berpotensi menekan margin.
Penguatan modal melalui penerbitan Tier II Rp2 triliun juga dipandang sebagai langkah positif untuk menjaga rasio permodalan sekaligus membuka ruang ekspansi. Sementara rencana pendirian anak usaha asuransi dan pembiayaan dinilai memberi dampak positif dalam jangka menengah.
Dari sisi pasar saham, Ekky menilai pergerakan saham BBTN ke depan akan sangat ditentukan oleh perbaikan kualitas aset dan biaya dana pada semester I-2026.
Jika kedua faktor tersebut membaik, saham BBTN dinilai berpeluang mengalami pemulihan. Ia merekomendasikan akumulasi bertahap saham BBTN dengan target harga di kisaran Rp1.450–Rp1.600.
Selanjutnya: MPXL Menggenjot Diversifikasi Bisnis
Menarik Dibaca: Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Hari Ini Selasa 27 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












