kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bunga simpanan melandai, perbankan tak memacu special rate


Senin, 13 Mei 2019 / 22:28 WIB
Bunga simpanan melandai, perbankan tak memacu special rate

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menahan tingkat bunga penjaminan untuk periode Mei-September 2019, serupa pada periode Januari-Mei 2019. Suku bunga di bank umum dalam bentuk Rupiah ditetapkan 7,00%, sementara untuk Valas 2,25%. Sedangkan untuk BPR untuk simpanan Rupiah sebesar 9,50%.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah bilang, keputusan untuk menahan tingkat bunga pinjaman lantaran pihaknya menilai kondisi likuiditas perbankan yang stabil.


Sepanjang periode observasi sejak 7 April 2019 hingga 5 Mei 2019, LPS mencatat suku bunga pinjaman Rupiah justru turun 3 bps menjadi 6,04%. Sedangkan untuk suku bunga pinjaman valuta asing (Valas) terjadi kenaikan tipis, 1 bps menjadi 1,24%.

“Yang menarik suku bunga simpanan special rate Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 1, dan BUKU 2 lebih rendah dibandingkan BUKU 3, dan BUKU 4,” kata Halim di Jakarta, Senin (13/5).

Dari catatan LPS hingga 7 Mei 2019, rata-rata special rate di BUKU 1 sebesar 6,92%, BUKU 2 sebesar 7,39%, BUKU 3 sebesar 7,19%, dan BUKU 4 sebesar 7,30%. Padahal bank kecil menengah di kelas BUKU 1 hingga BUKU 3 kerap mengandalkan special rate untuk memacu DPK.

Meski demikian Halim bilang hal tersebut tak serta merta menandakan kekurangan likuiditas. Menurutnya kenaikan ini lebih mengarah kepada kebutuhan ekspansi kredit. Maklum dari catatan hingga kuartal 1/2019 pertumbuhan kredit bank memang tumbuh 11,6% (yoy). meningkat pesat dibandingkan pertumbuhan kuartal 1/2018 sebesar 8,5% (yoy).

Di sisi lain DPK justru belum terakselerasi maksimum pada kuartal 1 2019 pertumbuhannya cuma 7,2% (yoy0. menurun 50 bps dibandingkan kuartal 1/2018 yang tumbuh 7,7% (yoy).

“Kredit bank cenderung naik, meski DPK masih agak terlambat pertumbuhannya dibandingkan kredit. makanya akan menciptakan suasana di mana likuiditas mungkin akan relatif, dan bank besar akan relatif mencari DPK. Meski tak semuanya,” lanjut Halim.

Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA, anggota indeks Kompas100) Lani Darmawan pun mengaku sepanjang kuartal 1/2019 perseroan secara umum belum mengerek special rate depositonya. Dari laman resminya, CIMB yang masuk kelas BUKU 4 ini tercatat menawarkan bunga deposito di kisaran 6,50%-6,75% di dengan tenor 1 bulan hingga 12 bulan.

Rate deposito kami tidak ada kenaikan secara overall, hanya,di deposito dengan tenor di atas tiga bulan. Karena kami juga masih akan fokus mengejar CASA (current account and saving account) di kisaran 56%-57%. Sementara LDR hingga saat ini masih stabil di kisaran 96-97%,” kata Lani saat dihubungi Kontan.co.id.

Sementara hingga kuartal 1/2019 perseroan mampu menghimpun DPK Rp 190,56 triliun, turun 0,5% (yoy) dibandingkan kuartal 1/2018 senilai Rp 191,53 triliun. Sedangkan pertumbuhan kredit perseroan pada periode yang sama mencapai Rp 187,99 triliun, tumbuh 5,0% (yoy) dibandingkan kuartal 1/2018 senilai Rp 179,09 triliun.

Di kelas BUKU 3, Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100) Budi Satria pun mengaku hal serupa. Perseroan belum mengerek suku bunga special rate deposito sepanjang kuartal 1/2019.

“Kami belum menaikkan suku bunga deposito sampai saat ini. Namun kami masih akan melihat lagi perkembangan di pasar. Sementara LDR kami hingga Maret 2019 sebesar 115%, dan hingga akhir tahun kami targetkan bisa mencapai 103%,,” katanya kepada Kontan.co.id.

Pertumbuhan DPK BTN pada kuartal 1/2019 memang melejit di kisaran 11,0% (yoy) menjadi Rp 215,52 triliun dibandingkan kuartal 1/2018 senilai Rp 194,48 triliun. Sedangkan kredit perseroan tumbuh 16,5% (yoy) menjadi Rp 301,34 triliun dibandingkan kuartal 1/2018 senilai Rp 258,73 triliun.

Sebelumnya Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Panji Irawan justru mengaku hendak mengerek suku bunga deposito special rate.

Maklum sepanjang kuartal 1/2019 pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bank berlogo pita emas ini cuma tumbuh 7,6% (yoy) mencapai Rp 827,8 triliun dibandingkan posisi kuartal 1/2018 sebesar Rp 769,3 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut jauh berada di bawah pertumbuhan kredit perseroan yang pada periode serupa mencapai 12,4% dengan realisasi penyaluran Rp 790,5 triliun.

“Tendensi suku bunga pasar masih akan meningkat mengingat likuiditas yang juga diprediksi masih akan ketat. Makanya meski tahun lalu kami tidak menggunakan strategi ini, mulai tahun ini apa boleh buat? Dengan likuiditas yang ketat, pendanaan memang mesti didapat dengan special rate,” kata Panji dalam paparan kinerja kuartal 1/2019 akhir April lalu.




TERBARU

Close [X]
×