kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.985   72,00   0,40%
  • IDX 5.641   -2,58   -0,05%
  • KOMPAS100 727   -0,51   -0,07%
  • LQ45 552   -0,61   -0,11%
  • ISSI 197   0,30   0,15%
  • IDX30 314   -0,26   -0,08%
  • IDXHIDIV20 389   -0,39   -0,10%
  • IDX80 83   -0,09   -0,11%
  • IDXV30 107   0,26   0,24%
  • IDXQ30 102   -0,07   -0,07%

Dari Bank Pundi, rugi Bank Banten membengkak


Selasa, 16 Agustus 2016 / 20:51 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk sampai semester 1 2016 mencatatkan kinerja yang buruk. Hal ini bisa dilihat dari kerugian bersih sebesar Rp 180 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, rugi bersih ini mengalami kenaikan 47,54% yoy.

Dalam laporan keuangan publikasi Bank Banten yang diterbitkan Selasa, (16/8) disebut kerugian ini disebabkan karena pendapatan bunga bersih turun 81,82% yoy menjadi hanya Rp 44 miliar. Untungnya, beban operasional selain bunga turun 32,75% yoy menjadi Rp 269 miliar.

Dari fungsi intermediasi, tercatat kredit bank yang dulu bernama Bank Pundi ini mengalami penurunan 35% yoy menjadi Rp 3,4 triliun. Sebagai informasi, sebelumnya Bank Banten mengatakan kedepannya akan fokus ke pembiyaaan konsumer dan mikro sebagai perhatian utama.

Dari sisi DPK tercatat, juga turun sebesar 33,96% yoy menjadi Rp 4,07 triliun. Penurunan ini utamanya karena pada dana murah atau CASA yang cukup besar yaitu sebanyak 43,16% yoy. Tercatat sampai Juni 2016, CASA hanya menyumbang 9,08% dari total DPK Bank Banten.

Walhasil, aset Bank Banten pun anjlok 29,01% yoy menjadi Rp 5,2 triliun. Namun karena suntikan dana dari Pemprov Banten dan MNC Capital, tercatat CAR Bank Banten masih mengalami kenaikan 117bps menjadi 11,29%.

Untuk kredit macet, tercatat sampai semester 1 2016, mengalami penurunan yang cukup besar yaitu mencaai 298bps menjadi 5,04%. Otomatis Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga turun sebesar 69,3% yoy menjadi Rp 59 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×