kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Dolar Selandia Baru Menguat ke Level Tertingi Sejak September 2026, Ini Prospeknya


Rabu, 21 Oktober 2026 / 23:21 WIB
Dolar Selandia Baru Menguat ke Level Tertingi Sejak September 2026, Ini Prospeknya
ILUSTRASI. Logo DBS Bank (Dok/DBS Bank)


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di pasar valuta asing, dolar Selandia Baru (NZD) melanjutkan pemulihan terhadap dolar AS (USD) selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Pasangan mata uang NZD/USD naik dari posisi terendah pada 14 Oktober di level 0,5565 menjadi ditutup pada 0,5663, level tertinggi sejak 28 September.

Senior FX Strategist DBS Group Research Philip Wee menilai, penguatan dolar Selandia Baru tidak hanya ditopang ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), tetapi juga pelemahan dolar AS.

Pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 80,7% bahwa RBNZ akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat 28 Oktober.

"Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan membawa Official Cash Rate (OCR) menjadi 3%, yakni batas atas kisaran target inflasi sebesar 1,3%," begitu ungkap Philip Wee dalam laporan DBS yang diterima KONTAN, Rabu (21/10/2026).

Sementara itu, dolar AS diproyeksi tertekan jika pejabat The Fed meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober mendatang.

Baca Juga: Dolar AS dan Euro Sama-Sama Overvalued, DBS Sorot Peluang Koreksi

Walaupun begitu, DBS memperkirakan pemulihan dolar Selandia Baru berpotensi kehilangan momentum setelah rapat RBNZ dan The Fed pekan berikutnya.

RBNZ diperkirakan memberikan sinyal jeda kenaikan suku bunga, sedangkan pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember.

Dari sisi inflasi, data indeks harga konsumen Selandia Baru yang dijadwalkan rilis pada 22 Oktober diperkirakan menunjukkan inflasi melambat menjadi 0,8% QoQ dan 3,8% YoY pada kuartal III-2026, dibandingkan 1,5% QoQ dan 4,1% YoY pada kuartal sebelumnya.

Kepala Ekonom RBNZ, Paul Conway juga dinilai semakin tak mengkhawatirkan dampak lanjutan dari kenaikan harga energi terhadap inflasi.

Conway memandang, setelah kenaikan suku bunga pada Juli dan September, posisi kebijakan moneter berada di antara tingkat yang masih mendorong aktivitas ekonomi dan tingkat yang lebih netral.

Baca Juga: Strategi Kelola Kekayaan Jangka Panjang dari Bank DBS Indonesia

"Dengan OCR mendekati titik tengah kisaran suku bunga netral yang diperkirakan berada di 2,5%-3,5%, penguatan NZD lebih lanjut dalam rentang perdagangan setahun terakhir di 0,56-0,61 kemungkinan membutuhkan katalis baru berupa pelemahan dolar AS," ucap Conway.

DBS Group Research juga memaparkan, pejabat The Fed berpotensi semakin membedakan inflasi akibat kenaikan harga energi dengan inflasi yang mendasari.

Perubahan pendekatan tersebut dapat meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS pada 2027.

"Narasi mengenai keistimewaan ekonomi AS atau US exceptionalism juga menghadapi sejumlah tantangan, termasuk potensi kemenangan Partai Demokrat di kedua kamar Kongres dalam pemilihan paruh waktu AS pada 3 November serta kekhawatiran bahwa investasi AI yang dibiayai utang dapat menggerus valuasi saham dan prospek pertumbuhan ekonomi AS," tandasnya.

Baca Juga: Simpanan Valas Melonjak 19,8%, Nasabah Makin Banyak Pegang Dolar Ketimbang Rupiah?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×