kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Simpanan Valas Melonjak 19,8%, Nasabah Makin Banyak Pegang Dolar Ketimbang Rupiah?


Selasa, 22 September 2026 / 20:01 WIB
Simpanan Valas Melonjak 19,8%, Nasabah Makin Banyak Pegang Dolar Ketimbang Rupiah?
ILUSTRASI. Tabungan Valas: Teller menghitung mata uang US Dollar di Bank BNI (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun ini, simpanan masyarakat dalam bentuk valuta asing (valas) tumbuh subur di perbankan. Pertumbuhannya bahkan mengungguli simpanan dalam bentuk rupiah. 

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, simpanan valas tumbuh hingga 19,8% secara tahunan menjadi Rp 1.727,73 triliun per Juli 2026. Di saat yang sama, simpanan rupiah tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi Rp 8.622,13 triliun. 

Hasil itu kontras dengan tren di periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2025, simpanan valas di perbankan cuman tumbuh 4,8% secara tahunan menjadi Rp 1.442,45 triliun sementara simpanan rupiah tumbuh 7,3% secara tahunan menjadi Rp 7.891,26 triliun. 

Baca Juga: Strategi Prudential Indonesia Perkuat Produktivitas Agen untuk Dorong Kinerja Bisnis

Dengan pertumbuhan yang lebih pesat, komposisi simpanan valas juga jadi bertambah dari 15,5% menjadi 16,7% total simpanan. Sejalan dengan itu, komposisi simpanan rupiah turun dari 84,5% menjadi 83,3% dari total simpanan. 

Tahun ini, nilai tukar rupiah memang banyak terkikis. Namun, SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan bilang pertumbuhan pesat simpanan valas bukan semata-mata efek konversi akibat pelemahan rupiah. 

Dalam pandangan Trioksa, simpanan valas yang tumbuh lejit ini mencerminkan peningkatan kebutuhan dan preferensi nasabah untuk memegang valas. 

Dari sisi korporasi, ia melihat nasabah perusahaan dan eksportir membutuhkan valas untuk transaksi serta pembayaran impor dan utang. Di samping itu, valas juga dibutuhkan untuk hedging serta penempatan dana hasil ekspor (DHE). 

Dari sisi ritel, Trioksa bilang nasabah yang rutin membeli valas juga cenderung menambah kepemilikannya sebagai diversifikasi dan perlindungan terhadap volatilitas rupiah. 

Maka, meski bukan efek konversi, pelemahan rupiah secara tak langsung juga memengaruhi tren simpanan valas saat ini dan ke depannya. “Ke depan, simpanan valas berpotensi tetap tinggi selama ketidakpastian global dan tekanan rupiah bertahan,” kata Trioksa kepada Kontan, Selasa (22/9/2026). 

Ia memprediksi, pertumbuhan di level double digit masih bisa berlanjut hingga akhir tahun jika nasabah semakin masif memegang valas untuk berjaga-jaga. Namun, itu tetap bergantung arah kurs, kebijakan suku bunga global dan domestik, penerimaan ekspor, serta kebutuhan valas korporasi. 

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan, saat ini simpanan valas di CIMB Niaga tumbuh paling tinggi, mencapai kisaran 30% secara tahunan, dengan lonjakan terjadi di berbagai segmen. 

Baca Juga: Sarana Menara Nusantara (TOWR) Tambah Fasilitas Kredit Rp2 Triliun dari BCA

Ia sepakat bahwa pertumbuhan yang lejit ini masih bakal berlanjut hingga akhir tahun. “Mungkin kisaran 20%,” sebutnya. Lani memproyeksi, pertumbuhan simpanan valas bakal tetap lebih tinggi ketimbang simpanan rupiah. 

Menurutnya itu disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kebutuhan untuk antisipasi bayar cicilan valas korporasi, hingga antisipasi kebutuhan konsumtif ritel seperti biaya pendidikan di luar negeri dan sebagainya. 

Ke depan, peluang pertumbuhan simpanan valas yang lebih masif juga datang dari kebijakan baru DHE SDA (sumber daya alam) yang berlaku sejak September 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut, kebijakan ini bakal memberi dampak positif bagi lima belas bank yang ditunjuk sebagai pengelola DHE SDA. 

Namun, ia bilang dampaknya baka berbeda pada masing-masing bank, tergantung kemampuan bank dalam menarik, mempertahankan, dan mengelola dana secara produktif. Terkait itu, ia mengimbau agar bank mengelola simpanan valas yang ada di level suku bunga yang memadai.

“Apabila pemberian imbal hasil terlalu tinggi semata-mata untuk menarik DHE SDA, justru dapat meningkatkan biaya dana valas dan pada akhirnya menekan profitabilitas,” tutur Dian.

Dalam menangkap peluang yang ada, Dian juga mewanti-wanti tiap bank agar bersaing secara sehat dalam meningkatkan kualitas layanan, kemampuan memenuhi kebutuhan transaksi valas eksportir, produk treasury dan hedging, serta solusi pengelolaan dana yang memberi nilai tambah bagi nasabah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×