kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Dorong Kredit, Bank Indonesia Kembalikan Dana Rp 440 Triliun ke Perbankan


Senin, 14 September 2026 / 14:49 WIB
Diperbarui Senin, 14 September 2026 / 14:55 WIB
Dorong Kredit, Bank Indonesia Kembalikan Dana Rp 440 Triliun ke Perbankan
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus mendorong likuiditas perbankan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil. Salah satunya melalui kebijakan makroprudensial berupa insentif pengurangan kewajiban giro wajib minimum (GWM) bagi perbankan.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, insentif pengurangan GWM tersebut memungkinkan bank mendapatkan kembali dana yang sebelumnya ditempatkan sebagai GWM di BI. Dengan kebijakan tersebut, dana yang dapat kembali ke perbankan diperkirakan mencapai sekitar Rp 500 triliun.

“Seperti contohnya untuk kebijakan ekonomi makroprudensial, kita juga sudah mengeluarkan berbagai insentif pengurangan GWM bagi bank-bank, bisa hingga 6% dari GWM yang total perbankan,” ujar Destry saat melakukan rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).

Menurut Destry, meski GWM perbankan berada di level 9%, melalui skema insentif tersebut secara efektif bank dapat memperoleh pengurangan hingga 6%. Dana yang kembali ke perbankan selanjutnya diharapkan dapat digunakan untuk memperbesar penyaluran kredit.

Baca Juga: BI Siapkan Kebijakan untuk Dorong Sektor Riil dan Lapangan Kerja

“Jadi artinya ada sekitar Rp500 triliun yang uang akan kembali kepada bank, sehingga bank bisa menyalurkan kreditnya,” katanya.

Hingga saat ini, Destry menyebut sekitar Rp 440 triliun dana telah kembali ke perbankan melalui kebijakan tersebut. Pengembalian dana tersebut diberikan kepada bank yang memenuhi persyaratan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang menjadi prioritas.

Sektor yang menjadi sasaran penyaluran kredit antara lain sektor yang menciptakan lapangan pekerjaan, pangan, perumahan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain mendorong kredit ke sektor prioritas, BI juga ingin memastikan tambahan likuiditas tersebut benar-benar digunakan secara optimal oleh perbankan. Destry menekankan agar dana perbankan tidak hanya ditempatkan pada surat berharga, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Dan juga terakhir juga optimalisasi dari bank dalam menyalurkan kreditnya, instead uangnya hanya ditaruh di surat berharga seperti di SRBI,” ujar Destry.

Baca Juga: BI Kurangi Lelang SRBI, Mulai Seimbangkan Stabilitas Rupiah dan Likuiditas

Selain melalui insentif GWM, BI juga terus melakukan ekspansi kebijakan moneter untuk menjaga likuiditas di sistem keuangan. Destry mengatakan, langkah tersebut dilakukan antara lain melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Dengan koordinasi yang juga makin kuat dengan Menteri Keuangan, dengan Kementerian Keuangan, maka Bank Indonesia juga terus melakukan ekspansi kebijakan moneter kami, termasuk kami melakukan pembelian dari SBN di pasar sekunder, itu sudah sekitar di atas Rp250 triliun,” kata Destry.

Di sisi lain, BI juga terus mengurangi outstanding SRBI. Destry menyebut posisi SRBI yang sebelumnya pernah mencapai hampir Rp1.100 triliun, kini telah turun menjadi Rp1.047 triliun per 10 September.

Penurunan juga terjadi pada imbal hasil SRBI tenor satu tahun. Dari sebelumnya mencapai 7,74%, yield tersebut telah turun menjadi 6,94%.

Destry mengatakan, penurunan outstanding dan yield SRBI merupakan bagian dari upaya BI mengembalikan likuiditas kepada perbankan sehingga dapat mendukung penyaluran kredit.

“Tujuannya adalah mengembalikan dana itu sebenarnya kepada bank, agar bank itu juga akan bisa menyalurkan kreditnya,” pungkas Destry.

Baca Juga: BI Pegang Hampir 28% Surat Utang Pemerintah, Yield Tinggi Berisiko Tekan Modal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×