kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.265   43,00   0,25%
  • IDX 7.096   -10,94   -0,15%
  • KOMPAS100 961   -0,42   -0,04%
  • LQ45 685   -1,68   -0,25%
  • ISSI 257   -0,73   -0,28%
  • IDX30 378   -1,17   -0,31%
  • IDXHIDIV20 463   -2,48   -0,53%
  • IDX80 108   -0,16   -0,15%
  • IDXV30 135   -0,98   -0,72%
  • IDXQ30 120   -0,89   -0,73%

Edukasi Pengelolaan Keuangan Pengguna Pindar Perlu Diperkuat


Selasa, 28 April 2026 / 10:53 WIB
Edukasi Pengelolaan Keuangan Pengguna Pindar Perlu Diperkuat
ILUSTRASI. ilustrasi pinjol (Shutterstock/La Terase)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Edukasi pengelolaan keuangan bagi pengguna pinjaman daring (pindar) perlu terus diperkuat seiring pesatnya pertumbuhan layanan tersebut. Tanpa pemahaman yang memadai, kemudahan akses justru berisiko menjerat masyarakat dalam beban utang.

Kolaborasi regulator, industri fintech, dan berbagai pihak diperlukan untuk memperluas edukasi. Tujuannya, mendorong masyarakat menjadi pengguna yang lebih bijak dan mampu memanfaatkan pindar secara sehat dan produktif.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Yasmine Sembiring, mengungkapkan sepanjang 2025 pihaknya telah menggelar sekitar 700 kegiatan edukasi. Program ini difokuskan untuk mendorong kesehatan keuangan sekaligus mencegah masyarakat terjebak dalam fenomena gagal bayar (galbay).

Ia menegaskan, kampanye anti-galbay terus digencarkan kepada pengguna pinjaman daring. Masyarakat diingatkan untuk tidak pernah menjadikan galbay sebagai pilihan.

Baca Juga: Riset UI: Pendanaan AdaKami Dorong PDB hingga Rp 10,96 Triliun

“Perlu dipahami, data keuangan pengguna kini sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Artinya, rekam jejak finansial akan terlihat jelas. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini justru bisa berbalik merugikan,” ujar Yasmine dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026). 

Pelaku pinjaman daring (pindar) terus mendorong penguatan literasi keuangan. Hasilnya mulai terlihat, dengan sebagian pengguna di sejumlah platform menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup baik.

Temuan ini diungkap Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam riset bertajuk “Kajian Dampak Fintech Lending terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Indonesia: Studi Kasus AdaKami”. Studi itu mencatat, pengguna AdaKami memiliki literasi keuangan relatif tinggi dibandingkan kelompok lain, seperti pengguna pinjaman informal dan pinjol ilegal.

Lebih dari 89,2% responden memahami cara menghitung bunga pinjaman, sementara lebih dari 95% mengetahui perhitungan biaya dan tenor. “Literasi keuangan di semua kelompok sebenarnya sudah di atas 80%, namun pengguna AdaKami sedikit lebih unggul, terutama dalam pemahaman bunga,” ujar Prani Sastiono.

Baca Juga: Ini Kata AFPI Soal TWP90 Fintech Lending Meningkat Jadi 4,38% per Januari 2026

Meski demikian, riset juga menemukan sejumlah kerentanan perilaku. Sekitar 16% responden merasa mampu melunasi pinjaman tanpa menghitung kemampuan bayar, dan 73% mengaku memahami syarat pinjaman meski belum membacanya secara rinci.

Selain itu, kecenderungan berorientasi jangka pendek juga masih muncul. Sekitar 14% pengguna terdorong berbelanja saat diskon, sementara 7% bersedia membayar biaya tambahan demi pencairan cepat atau tergiur investasi berimbal hasil tinggi meski berisiko.

Prani menegaskan, perilaku tersebut dapat berdampak pada kemampuan bayar dan kesehatan keuangan rumah tangga. Karena itu, LPEM FEB UI merekomendasikan regulator, asosiasi, dan pelaku industri untuk terus memperkuat edukasi pengelolaan keuangan bagi pengguna pindar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×