Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit investasi di Bank Central Asia Tbk (BCA) terus mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2025 mencapai Rp 362,4 triliun atau tumbuh 13% secara tahunan (year on year/YoY).
“Kami melihat kinerja industri perbankan akan sejalan dengan kondisi perekonomian. Tren pertumbuhan kredit masih terjaga hingga saat ini,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn kepada kontan.co.id, Jumat (6/3/2026).
Meski demikian, BCA tetap mencermati berbagai dinamika makroekonomi baik domestik maupun global, termasuk potensi dampak dari eskalasi tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah terhadap sentimen ekonomi.
Baca Juga: OJK Awasi Khusus 7 Perusahaan Perasuransian dan 7 Dana Pensiun per Februari 2026
Menurut Hera, dalam menghadapi ketidakpastian global tersebut BCA tetap berfokus pada penguatan fundamental bisnis dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.
Selain itu, bank swasta terbesar di Indonesia ini juga menjaga posisi permodalan dan likuiditas agar tetap solid guna menghadapi berbagai potensi risiko eksternal.
Dari sisi manajemen risiko, BCA terus melakukan pemantauan terhadap risiko konsentrasi kredit, termasuk pengelolaan limit kredit serta kualitas portofolio pembiayaan.
Perseroan juga menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang berpotensi terdampak dinamika ekonomi, serta melakukan evaluasi terhadap sektor industri berdasarkan prospek usaha dan tingkat risiko pembiayaan.
Sebagai bagian dari pengelolaan risiko, BCA menerapkan sistem Early Warning System untuk mendeteksi potensi debitur bermasalah lebih dini sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan.
Baca Juga: Mandiri Utama Finance (MUF) Berencana Terbitkan Surat Utang pada 2026
Hingga akhir 2025, BCA mencatatkan pencadangan loan at risk (LAR) sebesar 71,6%. Sementara rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mencapai 183,8%.
Menurut Hera, tingkat pencadangan tersebut berada pada level yang memadai untuk menghadapi potensi ketidakpastian kondisi ekonomi maupun risiko bisnis debitur ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













