kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Fee Based Income (FBI) bank melaju kencang


Sabtu, 26 Oktober 2019 / 18:12 WIB
Fee Based Income (FBI) bank melaju kencang
ILUSTRASI. JAKARTA,23/07-PAPARAN KINERJA BNI. (Ki-ka) Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI Dadang Setiabudi, Direktur Human Capital dan Kepatuhan BNI Endang Hidayatullah, Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo, Direktur Keuangan BNI Angg

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI) di tengah tren penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) seiring pemangkasan suku bunga acuan. FBI ini diharapkan masih bisa menopang pertumbuhan perolehan laba hingga ujung tahun.

Upaya-upaya yang sudah terbukti berhasil mendorong pertumbuhan pendapatan non bunga sejumlah bank hingga kuartal III 2019. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya, mampu mencatat FBI sebesar Rp 8,13 triliun sepanjang Januari-September tahun ini. Capaian ini meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (year on year/yoy).

Sementara pada kuartal III 2018, FBI bank pelat merah ini hanya tumbuh sebesar 6% secara yoy. Performa pendapatan fee dan komisi yang cukup bagus ini turut membantu perolehan laba bersih BNI tetap tumbuh 4,7% di tengah perlambatan pertumbuhan net interest income (NII). Pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 3,3%, lebih rendah dari 10,6% pada triwulan III tahun lalu.

Baca Juga: Suku bunga turun, fee based income bank melaju kencang di triwulan III tahun ini

Pertumbuhan FBI BNI ini didorong dari pendapatan recurring fee. Adapun sumber pendapatan fee dan komisi perseroan berasal dari pemeliharaan account sebesar Rp 1,41 triliun (tumbuh 16%), bisnis kartu Rp 1,18 triliun (tumbuh 12,6%), ATM sebesar Rp 926 miliar (tumbuh 16,5%), pemeliharaan kartu debit Rp 326 miliar (tumbuh 57,5%), remitansi Rp 172 miliar (tumbuh 7,6%), trade finance Rp 909 miliar (tumbuh 9,4%), marketable securities Rp 680 miliar (tumbuh 58,1%), sindikasi Rp 325 miliar (tumbuh 81,6%), pendanaan pensiun Rp 125 miliar tumbuh 9%).

Direktur Manajemen Risiko BNI Rico Rizal Budidarmo mengatakan, FBI sangat penting untuk dijaga dalam jangka panjang. Ini akan jadi senjata bank menjaga laba di tengah NIM yang semakin menantang dan likuiditas yang kian ketat.

Tahun ini, BNI menargetkan FBI bisa tumbuh sekitar 10%-13%. Untuk mendorong pertumbuhan itu, perseroan akan mengoptimalkan trade finance, memperbanyak portofolio dari BUMN dan infrastruktur, dan menggarap bisnis konsumer lewat produk-produk berbasis teknologi. "Upaya-upaya ini diharapkan mendorong FBI," ujar Rico di Jakarta baru-baru ini.

Baca Juga: Kejar pertumbuhan laba hingga 8% hingga akhir tahun 2019, begini strategi Bank BNI




TERBARU

×