kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.937   24,00   0,13%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Fundamental Solid tapi Sahamnya Tertekan, Cermati Rekomendasi Saham BBCA


Senin, 05 Oktober 2026 / 06:20 WIB
Fundamental Solid tapi Sahamnya Tertekan, Cermati Rekomendasi Saham BBCA
ILUSTRASI. Teller melayani nasabah yang menabung di Bank BCA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menghadapi tekanan hingga penghujung 2026, meski fundamental bank tetap solid.

Koreksi saham lebih banyak dipengaruhi arus jual investor asing, tingginya premi risiko, serta ketidakpastian eksternal dibandingkan pelemahan kinerja bisnis.

Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), saham BBCA memang rebound 1,67% ke level Rp 6.100 per saham. Namun, dalam sepekan terakhir saham ini masih terkoreksi 2,4%.

Secara year to date (ytd), harga saham BBCA telah turun 24,46%. Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp 32,1 triliun terhadap saham BBCA sepanjang tahun berjalan.

Baca Juga: BCA Ubah Ketentuan Business Debit Card Deposit, Kini Tanpa Expiry Date

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai koreksi BBCA lebih mencerminkan kenaikan premi risiko dan tekanan arus dana asing, bukan memburuknya fundamental perseroan.

"Penurunan lebih karena premi risiko naik, bukan bisnis memburuk," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, ruang penguatan saham BBCA masih terbuka karena laba perseroan tetap tumbuh di tengah penurunan harga saham.

Fundamental BBCA juga masih ditopang basis dana murah atau current account savings account (CASA) yang tinggi, sehingga biaya dana relatif stabil meski suku bunga masih berada di level tinggi.

 

Selain itu, eksposur BBCA terhadap kredit mikro yang relatif kecil dan pembayaran dividen secara kuartalan dinilai dapat menjadi penyangga saham sembari pasar menunggu sentimen eksternal membaik.

Meski demikian, fundamental yang solid belum otomatis menjadi katalis bagi kenaikan harga saham. Wafi menilai investor masih cenderung berhati-hati selama premi risiko Indonesia tetap tinggi.

Baca Juga: KPR BCA Syariah Tumbuh 24,17% Jadi Rp 1,78 Triliun hingga Agustus 2026

Arus dana asing menjadi salah satu sumber tekanan utama. Sebagai saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi di pasar, BBCA dinilai menjadi salah satu saham yang paling cepat terkena dampak ketika investor asing melakukan aksi jual.

"Sebagai saham berbobot terbesar dan paling likuid, BBCA selalu pertama dijual saat asing keluar dan pertama dibeli saat asing kembali," jelas Wafi.

Pasar juga akan mencermati hasil review MSCI pada November mendatang. Keputusan tersebut dinilai dapat memengaruhi arah arus dana asing ke pasar saham Indonesia, termasuk ke BBCA.

Di sisi lain, penerapan mekanisme short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut menjadi perhatian investor. Namun, Wafi menilai short selling tidak serta-merta menjadi tekanan struktural bagi BBCA.

Menurut dia, dampaknya lebih mungkin terlihat pada volatilitas harga harian dibandingkan menentukan arah saham dalam jangka menengah dan panjang. Sebab, posisi short selling pada akhirnya harus ditutup melalui pembelian kembali saham.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×