Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama juga menilai dampak short selling terhadap BBCA saat ini lebih bersifat sentimen dan meningkatkan volatilitas jangka pendek.
"Short selling memang bisa menambah beban psikologis ke pergerakan harga, tetapi belum menjadi faktor dominan," kata Kevin.
Menurut Kevin, tekanan terhadap BBCA merupakan kombinasi pelemahan pasar saham secara umum, arus dana asing, ketidakpastian menjelang review MSCI, serta sentimen terkait rumor akuisisi yang sebelumnya telah dibantah oleh manajemen BCA.
Baca Juga: Dapen BCA: Investasi ke Luar Negeri Bukan karena Return Domestik Tak Optimal
Di tengah tekanan tersebut, Kevin masih melihat ruang penguatan BBCA apabila fundamental perseroan tetap terjaga dan tekanan eksternal mulai mereda.
BBCA masih memiliki sejumlah penopang, antara lain profitabilitas yang relatif resilien, CASA yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta peluang pertumbuhan kredit dan perbaikan melalui loan repricing.
Namun, pemulihan harga saham diperkirakan berlangsung bertahap. Investor akan mencermati perkembangan net interest margin (NIM), arah arus dana asing, serta kejelasan sentimen terkait MSCI.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA. Kevin menilai kenaikan harga yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari perbaikan fundamental sekaligus meredanya tekanan sentimen eksternal.
Sementara itu, Wafi melihat katalis BBCA hingga akhir tahun lebih banyak berasal dari faktor eksternal.
Baca Juga: BCA Life dan BCA Hadirkan Produk Asuransi Jiwa Tradisional Dwiguna VALUE+
Beberapa di antaranya adalah hasil review MSCI November yang mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, sinyal Federal Reserve terkait arah suku bunga, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













