kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Gap Tingkat Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah Begitu Lebar, Ini Penjelasan OJK


Rabu, 01 Juli 2026 / 14:16 WIB
Gap Tingkat Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah Begitu Lebar, Ini Penjelasan OJK
ILUSTRASI. Ilustrasi keuangan syariah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - TANGERANG SELATAN. Tingkat inklusi keuangan syariah di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan tingkat literasinya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai terbatasnya jaringan lembaga jasa keuangan syariah di berbagai daerah menjadi salah satu penyebab utama masyarakat belum banyak memanfaatkan layanan keuangan berbasis syariah.

Baca Juga: RoI Dapen BCA Naik ke 1,24% pada April 2026, Ini Pendorong Utamanya

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan syariah mencapai 43,42%.

Namun, indeks inklusi keuangan syariah baru sebesar 13,41%, menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan penggunaan produk keuangan syariah.

Plt Kepala Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Andi Muhammad Yusuf mengatakan, keterbatasan jaringan kantor lembaga jasa keuangan syariah, terutama di wilayah Indonesia Timur dan daerah pelosok, menjadi salah satu faktor yang menghambat peningkatan inklusi keuangan syariah.

"Misalnya di Maluku, hanya dua kabupaten/kota yang memiliki jaringan kantor syariah, yaitu Bank Syariah Indonesia dan Bank Muamalat. Jadi memang ada keterbatasan dalam penyebaran jaringan kantor," ujar Andi dalam acara Journalist Class di Tangerang Selatan, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: Direktur KB Bank (BBKP) Borong 1 Juta Saham, Saat Harga Turun

Selain keterbatasan infrastruktur, Andi menyebut kondisi ekonomi masyarakat juga memengaruhi akses terhadap layanan keuangan syariah.

Menurutnya, peningkatan pendapatan masyarakat akan mendorong minat untuk memanfaatkan produk dan layanan lembaga jasa keuangan, termasuk yang berbasis syariah.

Untuk mempersempit kesenjangan tersebut, OJK akan memperkuat edukasi dan perluasan akses melalui ekosistem syariah seperti pesantren, masjid, dan sekolah.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat, tetapi juga mendorong penggunaan produk dan layanan keuangan syariah.

Andi juga mengakui dominasi layanan keuangan konvensional masih menjadi tantangan.

Baca Juga: Bank Woori Saudara Raih Penghargaan Top Bank 2026 dari The Iconomics

Di sisi lain, promosi produk keuangan syariah dinilai masih belum optimal sehingga diperlukan penyebaran informasi yang lebih luas agar masyarakat terdorong beralih (switching) menggunakan layanan keuangan syariah.

Secara keseluruhan, SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional meningkat menjadi 66,46% dari 65,43% pada 2024.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional juga naik menjadi 80,51% pada 2025 dari 75,02% pada tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×