kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Giro wajib minimum (GWM) dilonggarkan, bank malah pilih koleksi surat berharga


Selasa, 09 Juli 2019 / 20:24 WIB

Giro wajib minimum (GWM) dilonggarkan, bank malah pilih koleksi surat berharga

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah Bank Indonesia melonggarkan Giro Wajib Minimum 50 bps guna mendorong pertumbuhan kredit tak sejalan dengan realisasi di lapangan. Alih-alih ekspansi kredit, beberapa bank lebih memilih membeli surat berharga.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100) Rohan Hafas misalnya menyatakan, tambahan likuiditas yang didapat bank berlogo pita emas akan digunakan untuk penempatan ke surat berharga.

“Tambahan likuiditas dari pelonggaran GWM tak membuat kredit lebih ekspansif. Lebih ke instrumen pasar uang, ada yang bisa kita beli MTN, obligasi jangka pendek sebelum disalurkan ke kredit,” katanya saat ditemui d DPR, Selasa (9/7).

Baca Juga: Ekonomi lesu, bank tak mau pasang target pertumbuhan kredit terlalu tinggi

Bank Mandiri sendiri diprediksi akan mendapatkan likuiditas tambahan senilai Rp 4 triliun dari kebijakan pelonggaran GWM tersebut. Rohan menjelaskan langkah tersebut diambil perseroan lantaran Bank Mandiri masih memandang pasar yang belum terlalu kondusif. “Karena melihat pasar, kami tidak mengoreksi RBB (rencana bisnis bank). Target pertumbuhan kredit kami masih 11%,” lanjutnya.

Sedangkan hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit senilai Rp 713,42 triliun. Nilai tersebut tumbuh 10,96% (yoy) dibandingkan posisi Mei 2018 senilai Rp 642,91 triliun.

Strategi serupa juga akan dilakukan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Presiden Direktur Parwati Surjudaja bahkan bilang sejatinya pelonggaran GWM belum banyak berdampak ke likudiitas perseroan. Loan to deposit ratio (LDR) pun saat ini masih berada di kisaran 90% setelah pelonggaran GWM berlaku efektif awal Juli lalu.

Baca Juga: Sejumlah pemain multifinance masih gencar mencari pinjaman valas di tahun ini

“Pelonggaran GWM membuat bank lebih fleksibel mengelola kelebihan dana, namun karena secara industri pertumbuhan kredit belum membaik, kelebihan dana disalurkan ke portofolio pasar uang, dan belum dapat meningkatkan portofolio kredit,” katanya kepada Kontan.co.id.

Sedangkan hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit senilai Rp 119,13 triliun, nilai tersebut baru tumbuh 5,40% (yoy) dibandingkan posisi Mei 2018 sebesar Rp 113,02 triliun.


Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Tendi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 1.7138 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 1.8641

Close [X]
×