kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45997,25   4,56   0.46%
  • EMAS1.134.000 0,18%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Industri Asuransi Bisa Jadi Salah Satu Penopang Pertumbuhan Ekonomi


Selasa, 04 Juli 2023 / 15:15 WIB
Industri Asuransi Bisa Jadi Salah Satu Penopang Pertumbuhan Ekonomi
ILUSTRASI. Tampilan logo sejumlah perusahaan?anggota?di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI),


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi diharapkan bisa menjadi salah satu sumber pendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah panjang, agar Indonesia bisa menjadi negara maju di 2045 mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2045, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% hingga 7%.

Menurutnya, untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan sumber-sumber pendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, salah satunya industri asuransi.

Baca Juga: 8 Emiten Asuransi Membayar Dividen Bulan Ini, Mana yang Rekomendasi Beli?

“Salah satu sumber tersebut adalah industri asuransi. Kita sudah lihat bagaimana pentingnya  peran industri atau sektor keuangan salah satunya industri asuransi ini terhadap pertumbuhan ekonomi,” tutur Ferry dalam agenda Re Insurance Sustainabbility In Dealing with Macroeconomic and Political year Volatility, Selasa (4/7).

Ferry mengatakan, industri asuransi perlu didorong agar bisa bangkit kembali setelah mengalami penurunan karena pandemi Covid-19.

Mengacu pada data terakhir, pertumbuhan industri asuransi hanya mampu tumbuh 1,2%, menurun drastik sebelum pasca pandemi yang rerata pertumbuhannya sebesar 7,5% selama periode 2011 hingga 2019.

“Pertumbuhan asuransi angka terakhir masih 1,2%. Jadi ini PR bersama kita untuk bisa mengembalikan kembali industri asuransi bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” tambahnya.

Selain itu, Ferry menilai gap antara literasi dengan inklusi di industri asuransi masih cukup besar, yakni, lietrasi sebesar  3,1%, sementara inklusi sebesar 16,6%. Artinya, pengetahuan masyarakat terkait asuransi sudah cukup besar, akan tetapi pemanfaatanya masih kurang, sehingga perlu didorong.

Baca Juga: Akhirnya, OJK Resmi Cabut Izin Usaha Kresna Life

Dia menambahkan, fundamental di industri ini juga perlu dikembangkan dalam perekonomian domestik, dengan meningkatkan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat agar mau menjadi pengguna asuransi.

“Kunci untuk bisa kita dorong industri asuransi, agar kontribusinya bisa lebih besar ke ekonomi, diharapkan produk layanan asuransi nggak merugikan masyarakat misalnya dari segi premi, pembayaran klaim, dan lainnya,” imbuh Ferry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×