kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.859   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Industri Asuransi Kesehatan Atur Strategi Kendalikan Klaim di Tengah Pelemahan Rupiah


Senin, 01 Juni 2026 / 15:51 WIB
Industri Asuransi Kesehatan Atur Strategi Kendalikan Klaim di Tengah Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. Pelaku industri asuransi lantas didorong untuk memperkuat berbagai strategi pengendalian klaim agar bisnis tetap berkelanjutan. (Allianz /Allianz )


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang dicermati industri asuransi kesehatan.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya layanan kesehatan, terutama pada komponen impor seperti obat-obatan, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, serta teknologi penunjang diagnosis dan perawatan.

"Apabila biaya layanan kesehatan meningkat, maka nilai klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi juga berpotensi ikut terdorong naik," katanya kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Di sisi lain, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo juga menilai mahalnya harga impor obat dan alat kesehatan bisa mendorong risiko inflasi medis.

Oleh karenanya, risiko utama yang perlu diwaspadai industri asuransi kesehatan saat ini adalah lonjakan biaya klaim akibat meningkatnya inflasi medis. Jika tekanan biaya kesehatan terus berlanjut, perusahaan asuransi berpotensi menghadapi tantangan untuk menjaga profitabilitas sekaligus mempertahankan premi yang tetap kompetitif bagi masyarakat.

"Pelemahan rupiah memicu pembengkakan beban biaya operasional rumah sakit, yang kemudian dibebankan kepada perusahaan asuransi melalui tagihan klaim yang lebih tinggi," terang Irvan.

Di tengah kondisi ini, pelaku industri asuransi lantas didorong untuk memperkuat berbagai strategi pengendalian klaim agar bisnis tetap berkelanjutan.

Baca Juga: Tak Semua Himbara Kebagian DHE SDA, Hanya Tiga Bank Jadi Penampung DHE

Menurut Budi, salah satu langkah yang harus dilakukan perusahaan asuransi adalah memperkuat manajemen risiko. Di samping itu, mereka juga diharapkan bisa mengendalikan biaya medis melalui penguatan kerja sama dengan rumah sakit maupun penyedia layanan kesehatan lainnya.

Lanjutnya, penerapan managed care, peninjauan kewajaran biaya layanan, digitalisasi proses klaim, serta analisis tren klaim secara berkala juga menjadi beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk menjaga efisiensi pengelolaan klaim.

Di sisi lain, perusahaan asuransi juga perlu memperhatikan aspek bisnis melalui penyesuaian desain produk dan kecukupan premi. Upaya promotif dan preventif juga dipandang penting guna mendukung keberlanjutan bisnis asuransi kesehatan dalam jangka panjang.

Sayangnya, hingga kuartal I-2026 data terkait nilai dan tren klaim asuransi kesehatan masih dalam proses pengumpulan, kompilasi, dan validasi dari perusahaan-perusahaan anggota. 

Baca Juga: Maybank Indonesia (BNII) Raup Laba Rp 308,77 Miliar pada Kuartal I-2026

Kendati demikian, AAUI menyebut industri saat ini masih terus mencermati perkembangan frekuensi klaim kesehatan, inflasi medis, serta berbagai faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi biaya layanan kesehatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×