Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah bank besar masih mampu menjaga efisiensi operasional pada semester I 2026. Hal ini tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) yang mayoritas berada di bawah 60%.
Berdasarkan rangkuman yang dilakukan Kontan terhadap 10 bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi bank dengan tingkat efisiensi operasional paling tinggi berdasarkan CIR di enam bulan pertama 2026.
Pada semester I 2026, CIR BCA tercatat sebesar 29,29%, sedikit meningkat dibandingkan posisi semester I 2025 yang sebesar 29,11%.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dengan CIR sebesar 35,50%. Rasio tersebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 38,52%.
Baca Juga: BTN Tawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Rp2 Triliun, Beri Kupon hingga 7,25%
Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan CIR sebesar 35,60% pada semester I 2026, turun cukup signifikan dari 43,40% pada semester I 2025.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berada di posisi keempat dengan CIR sebesar 44,60%, membaik dari 45,47%. Adapun PT Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan CIR sebesar 45,19%, turun dari 47,44%.
Di posisi keenam, PT Bank CIMB Niaga Tbk membukukan CIR sebesar 45,70%. Rasio tersebut relatif stabil dibandingkan semester I 2025 yang sebesar 45,54%.
Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencatatkan CIR sebesar 50,87%, membaik dari 52,60%. PT Bank Permata Tbk berada di posisi berikutnya dengan CIR sebesar 51,48%, meningkat dari 48,51%.
Adapun PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatatkan CIR sebesar 52,27%, naik dari 47,81%. Posisi terakhir ditempati PT Bank Maybank Indonesia Tbk dengan CIR sebesar 81,62%, meningkat dari 76,88%.
Secara umum, rasio biaya terhadap pendapatan yang ideal bagi bank yang sehat biasanya berada di bawah 50%. Namun, rasio pada kisaran 50%-60% masih dapat diterima, terutama bagi bank yang memiliki karakteristik bisnis ritel.
Baca Juga: Laba Bank Besar Masih Tumbuh hingga Agustus 2026, Siapa yang Paling Tinggi?
Selain CIR, efisiensi perbankan juga dapat dilihat melalui rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Rasio BOPO yang ideal umumnya berada pada kisaran maksimal 96%.
Berdasarkan data semester I 2026, seluruh bank dalam daftar masih mencatatkan BOPO di bawah 96%. BCA membukukan BOPO sebesar 41,22%, disusul CIMB Niaga sebesar 73,35%, BNI sebesar 73,11%, serta BRI sebesar 69,56%.
Namun, CIR dianggap lebih akurat untuk mengukur efisiensi operasional perbankan karena tidak dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya biaya pencadangan. Rasio ini lebih mencerminkan seberapa besar biaya operasional yang dikeluarkan bank untuk menghasilkan pendapatan.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, secara konsolidasi, saat ini CIR perseroan membaik secara tahunan, dari sekitar 45,8% menjadi 45,77%. Perbaikan juga terlihat pada rasio BOPO.
“Sebetulnya secara consolidated CIR kami yoy membaik saat ini dari 45,8% menjadi 45,77% dan BOPO membaik. Kami rasa ini merupakan efisiensi terbaik di KBMI 3 saat ini,” kata Lani kepada KONTAN, Rabu (16/9/2026).
Namun, Lani mengakui bahwa industri perbankan masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya dana atau cost of fund (CoF) dan tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Kondisi tersebut membuat pertumbuhan pendapatan menjadi lebih lambat dibandingkan kondisi normal sebelumnya.
“Kami perkirakan CIR akan berada di kisaran 45%-46% sampai akhir tahun. Jadi, secara keseluruhan kami harapkan tetap efisien,” ujarnya.
Baca Juga: Praktik STNK Only Berpotensi Timbulkan Risiko Hukum bagi Konsumen dan Multifinance
Sebelumnya Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn juga mengatakan, posisi CIR BCA relatif terjaga. Menurutnya, BCA terus menjaga keseimbangan antara pendapatan, biaya operasional, dan kebutuhan investasi berkelanjutan.
“Tahun ini, BCA terus melanjutkan investasi digital, namun juga diharapkan dapat membukukan kenaikan pendapatan dari digitalisasi,” kata Hera.
Di sisi lain, sejalan dengan pemulihan mobilitas dan perekonomian, BCA memproyeksikan beban operasional dapat dialokasikan untuk memberikan promo dan penawaran menarik bagi nasabah.
“Pada umumnya, kinerja perbankan akan sejalan dengan kondisi perekonomian. BCA akan terus menjaga rasio CIR dan BOPO pada level yang sehat dan kompetitif di industri perbankan, sejalan dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menjelaskan, secara umum, efisiensi operasional bank-bank besar pada semester I 2026 masih terjaga. Hal ini terlihat dari mayoritas CIR yang berada di bawah 50%.
Meski demikian, Trioksa mengingatkan bahwa perubahan CIR perlu dilihat dari kualitasnya, bukan hanya level rasio tersebut.
Menurutnya, penurunan CIR di BRI, Bank Mandiri, BNI, dan OCBC NISP mencerminkan pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat dibandingkan biaya, pengendalian biaya operasional, serta dukungan struktur pendanaan seperti dana murah atau CASA dan CoF yang lebih baik.
Baca Juga: 13 Bank Sudah Masuk Asset Registry Multifinance, OJK Ungkap Manfaat dan Risikonya
Sebaliknya, kenaikan CIR di BCA, CIMB Niaga, dan sejumlah bank lain dapat dipengaruhi oleh kenaikan biaya operasional, investasi teknologi dan sumber daya manusia, maupun faktor basis serta biaya yang bersifat satu kali atau one-off.
“CIR yang turun belum otomatis menunjukkan perbaikan fundamental yang berkelanjutan, terutama jika masih terdapat tekanan NIM, biaya dana, atau pencadangan,” ujar Trioksa.
Ia menjelaskan, efisiensi yang sehat adalah ketika CIR membaik bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan dan pre-provision operating profit (PPOP), kualitas aset yang terjaga, serta biaya dana yang terkendali.
Kondisi tersebut akan memberikan ruang lebih besar bagi bank untuk menjaga margin, menyerap kenaikan biaya dan risiko kredit, serta tetap menyalurkan kredit ketika perekonomian melambat.
Sebaliknya, pemangkasan biaya yang terlalu agresif justru berpotensi mengurangi investasi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














