Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate meningkat sebesar 100 basis poin sepanjang tahun ini dan kini ditahan di level 5,75%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kenaikan BI Rate berpotensi mempengaruhi industri pergadaian. Utamanya dalam hal sumber pendanaan pergadaian dari perbankan, yang mana bisa menekan sisi biaya dana.
"Kenaikan BI rate berpotensi mempengaruhi industri pergadaian, khususnya bagi perusahaan yang memiliki sumber pendanaan dari perbankan dengan skema suku bunga floating," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Senin (14/9/2026).
Agusman juga menyampaikan kenaikan BI rate tersebut diperkirakan tidak secara langsung mempengaruhi besaran bunga yang dikenakan kepada nasabah. Namun, berpotensi memberikan dampak terhadap profitabilitas perusahaan pergadaian.
Baca Juga: Bank BPD DIY Bidik Kredit Konsumer Rp4,91 Triliun hingga Akhir 2026
Agusman menerangkan perusahaan pergadaian didorong untuk menyiapkan strategi pendanaan yang lebih efisien, serta memperkuat manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian.
Dari sisi perusahaan pergadaian, PT Budi Gadai Indonesia asal Sumatra Utara (Sumut) akan menerapkan sejumlah strategi untuk menyikapi potensi kenaikan biaya dana secara bertahap, seiring BI Rate yang masih di level 5,75%.
Direktur PT Budi Gadai Indonesia Budiarto Sembiring mengatakan perusahaan akan menyikapi potensi kenaikan biaya dana dengan melakukan optimalisasi dan diversifikasi sumber pendanaan melalui Pemegang Saham Pengendali (PSP) dan perbankan. Budiarto menjelaskan pendanaan dari PSP akan tetap dioptimalkan sebagai sumber dana utama untuk mendukung kebutuhan likuiditas dan penyaluran pinjaman.
"Adapun fasilitas perbankan akan digunakan secara selektif dengan mempertimbangkan tingkat bunga, tenor, limit fasilitas, dan biaya pendanaan," ungkapnya kepada Kontan.
Budiarto menyampaikan perusahaan juga akan melakukan evaluasi secara berkala terhadap cost of fund dan kebutuhan likuiditas. Dengan demikian, penggunaan sumber pendanaan dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
Baca Juga: Kredit Bank BUMN Tumbuh 26%, S&P Waspadai Risiko Gagal Bayar Agrinas
Dengan strategi tersebut, dia berharap Budi Gadai Indonesia dapat menjaga kecukupan likuiditas, mengendalikan kenaikan biaya dana, serta meminimalkan dampaknya terhadap margin dan profitabilitas perusahaan.
Mengenai kinerja industri, OJK mencatat, penyaluran pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp 160,78 triliun per Juli 2026, atau tumbuh sebesar 50,73% secara Year on Year (YoY).
Secara rinci mengenai kinerja per Juli 2026, pembiayaan terbesar industri pergadaian disalurkan dalam bentuk produk gadai sebesar Rp 136,39 triliun. Nilainya mencakup 84,83% dari total pembiayaan yang disalurkan industri pergadaian.
OJK juga mencatat, nilai aset industri pergadaian per Juli 2026 mencapai Rp 192,18 triliun, atau meningkat 50,76% secara YoY.
?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














