Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) mencermati potensi kenaikan nilai klaim asuransi kendaraan bermotor seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia yang dapat mendorong kenaikan harga suku cadang impor serta biaya perbaikan kendaraan.
Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Brellian Gema Widayana mengakui bahwa pelemahan kurs berpotensi memengaruhi harga suku cadang impor dan biaya perbaikan kendaraan. Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat berdampak pada peningkatan nilai klaim asuransi kendaraan bermotor.
“Kondisi melemahnya nilai tukar saat ini berpotensi memengaruhi harga suku cadang impor dan biaya perbaikan kendaraan, sehingga dalam kondisi tertentu kemungkinan berdampak terhadap kenaikan nilai klaim, khususnya pada lini asuransi kendaraan bermotor,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: BFI Finance Optimistis Pembiayaan Mobil Bekas Tumbuh Positif, Ini Strateginya
Meski demikian, Brellian belum merinci besaran kenaikan klaim yang telah dibayarkan perusahaan akibat kondisi tersebut. Menurutnya, Jasindo terus melakukan pemantauan secara berkala serta evaluasi underwriting dan pengelolaan risiko untuk menjaga kualitas portofolio dan layanan kepada nasabah.
Ia menjelaskan, perusahaan saat ini berfokus pada penguatan fundamental underwriting, peningkatan kualitas portofolio bisnis, pengelolaan risiko yang selektif, serta efisiensi operasional. Selain itu, Jasindo juga memperkuat kerja sama dengan mitra reasuransi guna menjaga kapasitas perlindungan di tengah dinamika pasar global.
Di sisi lain, Jasindo terus memperkuat diversifikasi portofolio di berbagai lini usaha. Strategi tersebut dinilai dapat memberikan fleksibilitas yang lebih baik dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, termasuk ketika permintaan pada segmen tertentu mengalami perlambatan.
Brellian menambahkan, tekanan nilai tukar dan harga minyak merupakan faktor eksternal yang menjadi perhatian industri asuransi. Namun, perusahaan menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola melalui penerapan manajemen risiko yang disiplin, tata kelola yang kuat, serta pemantauan pasar secara berkelanjutan.
“Meski demikian, kami memandang kondisi tersebut sebagai bagian dari dinamika bisnis yang dapat dikelola melalui manajemen risiko yang disiplin, tata kelola yang kuat, serta pemantauan kondisi pasar secara berkelanjutan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













