kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Kenaikan Fuel Surcharge Berpotensi Menekan Minat Asuransi Perjalanan


Minggu, 27 September 2026 / 15:29 WIB
Kenaikan Fuel Surcharge Berpotensi Menekan Minat Asuransi Perjalanan
ILUSTRASI. Asuransi Perjalanan: Penumpang perjalanan domestik di Bandara YIA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan fuel surcharge akibat lonjakan harga avtur berpotensi memengaruhi minat masyarakat terhadap produk asuransi perjalanan, terutama menjelang periode liburan akhir tahun.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai, kenaikan biaya perjalanan dapat membuat konsumen semakin sensitif terhadap harga. 

Kondisi tersebut berpotensi mendorong masyarakat mengurangi pengeluaran tambahan, termasuk pembelian asuransi perjalanan secara sukarela.

Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik Makin Dilirik Bank, BSI dan BCA Catat Pertumbuhan

“Total biaya perjalanan yang semakin tinggi membuat masyarakat lebih sensitif terhadap harga, sehingga mereka cenderung memangkas biaya ekstra seperti asuransi,” ujar Irvan Rahardjo kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Menurutnya, perubahan perilaku konsumen juga dapat terlihat dari pilihan produk. Pelancong berpotensi lebih memilih asuransi perjalanan dengan perlindungan dasar dan premi yang lebih terjangkau dibandingkan produk dengan cakupan perlindungan yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, meningkatnya biaya perjalanan tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap proteksi. 

Ketidakpastian perjalanan, seperti risiko pembatalan, keterlambatan penerbangan, hingga kehilangan bagasi, tetap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi perjalanan.

Irvan Rahardjo menilai kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan asuransi untuk menyesuaikan strategi bisnis. Salah satunya melalui redesain produk dan skema bundling yang lebih fleksibel.

Perusahaan asuransi dapat memperkuat kerja sama dengan maskapai penerbangan maupun Online Travel Agent (OTA) untuk menghadirkan embedded insurance. 

Produk tersebut dapat ditawarkan langsung dalam proses pemesanan perjalanan dengan premi yang lebih terjangkau dan perlindungan esensial.

Selain itu, fitur trip cancellation dinilai menjadi salah satu perlindungan yang relevan untuk ditawarkan kepada konsumen di tengah meningkatnya biaya perjalanan. 

Baca Juga: Asuransi Asei Terapkan Strategi Dinamis Berinvestasi Saat Yield SRBI Melandai

Produk dengan manfaat yang sesuai kebutuhan dan harga kompetitif dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang tetap ingin memperoleh perlindungan tanpa menambah beban biaya secara signifikan.

Menjelang akhir tahun, kondisi industri asuransi perjalanan akan turut dipengaruhi oleh dua sentimen yang berlawanan. Di satu sisi, kenaikan harga tiket dapat mendorong konsumen menekan pengeluaran tambahan. 

Di sisi lain, risiko perjalanan yang tetap ada dapat membuat sebagian pelancong tetap mempertahankan anggaran untuk perlindungan.

Langkah pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi permintaan perjalanan. 

Pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk tiket penerbangan domestik berpotensi membantu menjaga daya beli masyarakat sehingga aktivitas perjalanan tidak mengalami penurunan terlalu dalam.

Dengan kondisi tersebut, perusahaan asuransi perlu menyesuaikan produk dengan kemampuan dan kebutuhan konsumen, terutama melalui premi yang lebih terjangkau, manfaat yang relevan, serta integrasi produk asuransi dalam ekosistem perjalanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×