Reporter: Aura Putri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan kendaraan listrik (EV) mulai menjadi salah satu peluang yang dilirik perbankan. Sejumlah bank mencatat pertumbuhan pembiayaan EV seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pembiayaan kendaraan listrik sebesar Rp 574 miliar hingga Juli 2026. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 9% terhadap total pembiayaan kendaraan atau BSI OTO.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, pembiayaan kendaraan listrik menjadi salah satu komitmen BSI untuk mendukung industri otomotif nasional.
"Pembiayaan kendaraan listrik menjadi salah satu komitmen Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mendorong penguatan industri otomotif nasional, salah satunya dengan menyediakan pembiayaan kendaraan yang sesuai prinsip syariah, termasuk Kendaraan Berwawasan Lingkungan (KBL)," kata Wisnu kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: OJK Buka Skema Sekuritisasi Baru, SMF Bidik Pendanaan Perumahan Lebih Luas
Hingga Juli 2026, outstanding pembiayaan BSI OTO mencapai sekitar Rp 6,75 triliun, tumbuh 11,20% secara tahunan.
Menurut Wisnu, pertumbuhan tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan berbasis syariah masih kuat.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat hingga semester I- 2026, pembiayaan kendaraan listrik telah mencapai sekitar Rp 4 triliun hingga saat ini, atau meningkat 25% secara tahunan.
Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan, permintaan kendaraan listrik saat ini mulai mendekati kendaraan konvensional berbahan bakar bensin maupun hybrid.
"Permintaan untuk mobil listrik atau EV jumlah unitnya tidak kalah, hampir sejajar dengan mobil konvensional yang pakai bensin atau hybrid. Jadi kami mencermati tren ke EV semakin meningkat," ujar Vera dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Vera mengatakan, pergeseran minat masyarakat ke kendaraan listrik turut memengaruhi nilai kredit yang disalurkan BCA. Sebab, harga mobil listrik yang dibiayai umumnya lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Baca Juga: Delapan SMV Kementerian Keuangan Bersinergi Mendorong Ekspor NTB
"Dalam masa transisi 2 tahun ke depan. Jika minat terhadap EV semakin meningkat. Jumlah unit yang kita bukukan semakin meningkat juga. Kemungkinan jumlah volume kreditnya bisa sedikit menurun," jelasnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, pembiayaan kendaraan listrik masih menghadapi tantangan, terutama suku bunga dan pasar kendaraan bekas EV yang belum sepenuhnya terbentuk.
"Pasar bekas EV belum sepenuhnya terbentuk itu juga jadi salah satu hambatan," ujar Bhima kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Untuk memperluas pembiayaan EV, bank dan lembaga pembiayaan perlu memperkuat kerja sama dengan produsen kendaraan listrik serta menyiapkan skema uang muka yang lebih ringan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














