Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat terhadap asuransi kendaraan listrik (EV) di PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) menunjukkan tren peningkatan pada kuartal I-2026.
Marketing Director GEGI, Linggarwati Tok menyebut premi asuransi lini ini tercatat tumbuh 124% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Minat asuransi kendaraan listrik tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu," katanya kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: Bank Muamalat Fokus Garap Layanan Bank Garansi pada Ekosistem Haji dan Umrah
Menurut Linggarwati, kenaikan tersebut sejalan dengan penjualan mobil listrik nasional yang melonjak 95,9% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 16.926 unit.
Di sisi lain, porsi kontribusi premi kendaraan listrik juga mengalami peningkatan mencapai 12% dari total portofolio asuransi kendaraan GEGI dari periode sebelumnya.
Adapun produk asuransi kendaraan listrik GEGI diklaim memiliki sejumlah cakupan tambahan yang tidak dimiliki asuransi kendaraan konvensional.
Beberapa di antaranya adalah perlindungan yang berkaitan dengan risiko kelistrikan, seperti kecelakaan diri akibat listrik, risiko saat pengisian daya, pembersihan puing baterai, hingga tanggung jawab hukum.
Sementara itu, hingga kini GEGI mencatat klaim asuransi kendaraan listrik masih didominasi oleh kasus tabrakan atau benturan, dan belum terdapat klaim akibat kebakaran baterai maupun risiko lain yang terkait fitur kendaraan listrik.
Baca Juga: OJK Gunakan Dua Pendekatan untuk Mendorong Pertumbuhan Sektor PPDP
Linggarwati juga mengatakan dalam memilih asuransi kendaraan, nasabah perlu mencermati cakupan perlindungan yang ditawarkan, terutama yang berkaitan dengan risiko spesifik kendaraan listrik.
Selain itu, nasabah juga perlu mencermati rekanan bengkel untuk kemudahan saat terjadi klaim nantinya.
Perlu diketahui, per Maret 2026 GEGI mencatatkan kenaikan jumlah pendapatan premi bruto sebesar Rp315,7 miliar dari yang sebelumnya Rp278,1 miliar pada Maret 2025 (unaudited).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













