kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kredit bank swasta tak sekencang BUMN, kenapa?


Kamis, 27 Juli 2017 / 12:49 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Beberapa pelaku industri keuangan mengakui pertumbuhan kredit bank swasta tidak sekencang bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini terlihat dari realisasi pertumbuhan kredit beberapa bank besar pada kuartal II 2017 yang keluar baru baru ini.

Dari data laporan keuangan kuartal II bisa dilihat pertumbuhan kredit beberapa bank BUMN bisa mencapai dua digit. Sedangkan bank swasta pada periode yang sama hanya mencatat pertumbuhan satu digit.

Aslan Lubis, Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK mengakui pertumbuhan kredit BUMN pada kuartal II jauh lebih tinggi dibandingkan bank swasta.

"Kredit BUMN sangat dibantu oleh korporasi infrastruktur sedangkan bank swasta lebih bermain di ritel," ujar Aslan kepada KONTAN, Kamis (27/7). Sedangkan saat ini kondisi ritel sedang tertekan penurunan daya beli.

Menurut Aslan, dua faktor yang mempengaruhi permintaan kredit adalah daya beli dan persepsi risiko. "Persepsi risiko produsen jelas terlihat meningkat sejalan dengan meningkatnya non performing loan (NPL)," ujar Aslan. Persepsi risiko bisnis yang masih tinggi ini membuat pengusaha menunda ekspansi sehingga menyebabkan permintaan kredit turun.

Menurut Aslan, dari sisi konsumen, memang terlihat tanda penurunan daya beli. Contoh nyatanya adalah penjualan ritel yang masih turun sementara pasar properti mengalami stagnansi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×