kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.968   55,00   0,31%
  • IDX 5.730   87,08   1,54%
  • KOMPAS100 742   14,13   1,94%
  • LQ45 561   7,80   1,41%
  • ISSI 199   2,71   1,38%
  • IDX30 318   3,44   1,09%
  • IDXHIDIV20 390   1,15   0,30%
  • IDX80 84   1,28   1,55%
  • IDXV30 107   -0,08   -0,08%
  • IDXQ30 102   0,61   0,60%

Kredit hanya tumbuh 6,35%, OJK Jabar dukung sinergi bank dengan sektor pertanian


Rabu, 24 Januari 2018 / 09:05 WIB


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - BANDUNG. Pertumbuhan kredit nasional yang tidak sesuai dengan target 11% dengan capaian hanya 8,35% juga dialami di Jawa Barat. Di Jawa Barat pertumbuhan kredit hanya tembus di angka 6,35%.

Sekadar informasi, realisasi KUR pada 2017 lalu telah tembus di angka 95% dari target. Kontribusi Jawa Barat pada KUR itu disebut berada di tiga terbesar dibanding dengan provinsi lainnya.

"Tapi debiturnya 50% orang lama," kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional II Jawa Barat, Sarwono belum lama ini saat membuka peresmian Kantor Cabang Rabobank Bandung.

Di Jawa Barat, Sarwono melihat potensi pertanian sangat tinggi. Oleh karena itu, dalam acara peresmian bank yang berfokus pada penyaluran kredit untuk pangan dan agrikultur tersebut, Sarwono mendukung adanya sinergi antara perbankan dengan sektor pertanian.

Ia menilai, penyaluran kredit dengan menggunakan model kluster merupakan model yang perlu diterapkan di Jawa Barat. "Jadi bukan hanya memikirkan petani, tapi pembelinya juga dipikirkan," kata Sarwono.

Sepakat dengan hal tersebut, Direktur Utama Rabobank Jos Luhukay juga akan berfokus melakukan pembiayaan yang aktif melihat rantai transaksi dari lini bisnis pangan dan agrikultur. Ia mencontohkan, perbankan perlu mengetahui terkait apa-apa yang diperlukan nelayan untuk penjualan ikan.

"Jadi itu yang harus kita bangun. Misalnya membiayai pembangunan cold storage," jelas Jos pada acara yang sama.

Hal tersebut juga memberikan kontribusi bagi penurunan risiko kredit macet atau non performing loan (NPL). Dengan menerapkan model penyaluran pembiayaan secara komprehensif dari produksi, distribusi, hingga penjualan, maka pihaknya mampu menekan NPL di angka sekitar 1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×