Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit investasi masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit perbankan di tengah tingginya suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit investasi tumbuh 24,9% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni 2026.
Laju tersebut meningkat dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 21,95% yoy. Pertumbuhan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 12,53% yoy.
Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan menilai, kuatnya pertumbuhan kredit investasi menunjukkan aktivitas investasi korporasi mulai pulih pada semester I-2026.
Menurutnya, permintaan pembiayaan banyak berasal dari sektor infrastruktur, manufaktur, hilirisasi, energi, telekomunikasi, pergudangan, hingga proyek strategis nasional yang ditopang belanja pemerintah dan investasi swasta.
"Pertumbuhan kredit investasi yang tetap menjadi motor penyaluran kredit pada semester I-2026 menunjukkan aktivitas investasi korporasi mulai pulih," ujar Trioksa kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).
Meski demikian, Trioksa menegaskan tingginya pertumbuhan tersebut bukan berarti bank melonggarkan standar pembiayaan. Perbankan tetap menyalurkan kredit secara selektif dengan menyasar debitur yang memiliki arus kas kuat, prospek usaha yang jelas, kualitas tata kelola yang baik, serta profil risiko yang terukur.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 12,1% pada Juni 2026, Kredit Investasi Masih Jadi Penopang
Strategi tersebut dinilai penting agar kualitas aset tetap terjaga di tengah tingginya biaya dana dan ketidakpastian ekonomi global.
Ia memperkirakan hingga akhir tahun kredit investasi masih akan menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit perbankan. Namun, lajunya diperkirakan lebih moderat seiring perlambatan ekonomi global dan masih tingginya suku bunga.
"Pertumbuhan kredit industri secara keseluruhan diperkirakan tetap berada dalam kisaran target OJK sekitar 9% hingga 11%," katanya.
Untuk menjaga momentum tersebut, Trioksa menyarankan bank memperbesar pembiayaan pada sektor-sektor produktif yang memiliki efek pengganda tinggi, memperluas pembiayaan rantai pasok dan proyek hijau, mempercepat proses kredit melalui digitalisasi, memperkuat pendampingan debitur, serta menjaga disiplin manajemen risiko dan pemantauan pascakredit.
Adapun CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi mengatakan, portofolio kredit Citi sangat terdiversifikasi sehingga tidak bergantung pada satu sektor tertentu.
Saat ini, pembiayaan Citi banyak mengalir ke sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, konstruksi, ritel, dan kimia. Selain itu, Citi juga melayani berbagai segmen nasabah mulai dari korporasi domestik, perusahaan multinasional, segmen komersial hingga trade finance.
"Dengan komposisi portofolio yang terdiversifikasi tersebut, Citi belum melihat adanya perlambatan pipeline kredit pada semester II-2026," ujarnya.
Baca Juga: Kredit Investasi Ditopang Program Pemerintah, Berpotensi Tumbuh Melandai Akhir 2026
Batara menambahkan, berbeda dengan bank-bank Himbara yang banyak menyalurkan pembiayaan pada program prioritas pemerintah, Citi lebih fokus pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan permintaan kredit yang baik.
Menurutnya, permintaan kredit hingga akhir tahun masih kuat terutama dari sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, konstruksi, pertambangan, ritel, dan kimia.
Karena itu, Citi membidik pertumbuhan kredit pada kisaran high single digit atau sekitar 5%-10% hingga akhir 2026.
Sementara itu, Wholesale Banking Director KB Bank Indonesia mengatakan perseroan tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit investasi.
Menurutnya, portofolio terbesar KB Bank berada di sektor manufaktur dan perdagangan. Namun, sektor manufaktur saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pelemahan Purchasing Managers' Index (PMI) hingga menurunnya kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB).
Karena itu, setiap proposal kredit investasi di sektor manufaktur dikaji secara lebih mendalam dengan melihat subsektor yang masih memiliki daya tahan dan keunggulan kompetitif di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Kredit Investasi BCA Tumbuh 13% YoY Jadi Rp 362,4 Triliun pada 2025
"Untuk kredit investasi, KB Bank memang lebih selektif. Kami melihat terlebih dahulu subsektor mana yang masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global dan geopolitik," ujarnya.
Di sisi lain, KB Bank menilai sektor pertambangan masih memiliki prospek yang cukup baik untuk pembiayaan investasi.
Perseroan tetap membidik pertumbuhan kredit sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB), yakni sekitar 8%-9% tahun ini. Namun, khusus segmen wholesale, perseroan harus menyalurkan kredit baru lebih agresif mengingat setiap bulan terdapat cicilan kredit jatuh tempo sekitar Rp300 miliar atau sekitar Rp4 triliun dalam setahun.
"Untuk mencapai target pertumbuhan sesuai RBB, kami harus menyalurkan kredit baru yang setara dengan pertumbuhan sekitar 11% hingga 12%," katanya.
Di kelompok bank besar, PT Bank Mandiri Tbk juga masih agresif mendorong pembiayaan sektor produktif.
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan kredit wholesale Bank Mandiri tumbuh 15,1% secara tahunan menjadi Rp343 triliun pada semester I-2026.
Menurut Totok, pertumbuhan tersebut ditopang penyaluran kredit ke sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan Kredit Investasi Rp 74 Miliar kepada Cipta Sarana Medika
"Bank Mandiri terus mengarahkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta berbagai sektor produktif lainnya," ujarnya.
Ia berharap strategi tersebut tidak hanya mendorong ekspansi usaha nasabah, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional secara lebih merata.
Hal senada juga terlihat di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan kredit produktif perseroan tumbuh 11% yoy menjadi Rp802 triliun per Juni 2026 atau mendominasi total penyaluran kredit BCA yang mencapai Rp1.036 triliun.
Secara khusus, kredit investasi BCA tumbuh 16% yoy menjadi Rp388 triliun. Pembiayaan tersebut terutama disalurkan ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, jasa bisnis, serta sektor produktif lainnya.
"BCA senantiasa menyalurkan kredit berkualitas ke berbagai segmen dan sektor secara pruden, dengan memperhatikan kemampuan calon debitur beradaptasi terhadap perubahan kebijakan maupun kondisi ekonomi, sekaligus menerapkan manajemen risiko yang disiplin," ujar Hera.
Meski kredit investasi tumbuh tinggi, BCA menegaskan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar kualitas aset tetap terjaga dan pertumbuhan kredit berlangsung secara berkelanjutan.
Baca Juga: Ekonom: Penyaluran Kredit Perbankan Bergeser ke Segmen Investasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
