kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Meneropong Pergerakan Saham Perbankan Kala The Fed Patok Suku Bunga Tinggi


Minggu, 20 September 2026 / 15:38 WIB
Meneropong Pergerakan Saham Perbankan Kala The Fed Patok Suku Bunga Tinggi
ILUSTRASI. ATM perbankan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap saham perbankan bertambah. Kenaikan suku bunga acuan yang masih berpotensi berlanjut tak cuman menjadi sentimen sesaat, tetapi juga berisiko memberatkan kinerja fundamental perbankan ke depannya.

Tengah minggu lalu The Fed memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75% - 4%. Mayoritas pejabat The Fed memproyeksi bakal ada kenaikan 25 bps lagi hingga akhir tahun, sehingga suku bunga global berpotensi menyentuh 4,25% ke depannya. 

Di tengah sentimen ini, saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo (big banks) kompak lesu pada akhir perdagangan Jumat (18/9/2026) lalu. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun harga paling dalam, yakni 2,41% dalam sehari dan 2,67% dalam sepekan menjadi Rp 3.650. 

Menyusul saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah harganya 2,07% dalam sehari dan 2,29% dalam sepekan menjadi Rp 4.260 serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 0,79% dalam sehari dan 0,4% dalam sepekan menjadi Rp 6.300.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,6% dalam sehari tetapi masih menguat 1,22% dalam sepekan menjadi Rp 3.310. 

Baca Juga: The Fed Menaikkan Suku Bunga, Saham Big Banks Menguat Pada Sesi I Kamis (17/9)

Sejalan dengan itu, dana asing juga deras keluar dari saham big banks. Dalam sepekan, net sell asing di BBRI tercatat sebesar 160,59 miliar, di BBNI Rp 204,38 miliar, di BBCA 626,78 miliar, dan di BMRI hingga Rp 702,5 miliar. 

Head of Research KISI, Muhammad Wafi bilang kenaikan suku bunga The Fed membuat spread imbal hasil Indonesia dan global otomatis menyempit jika Bank Indonesia (BI) tak ikut menaikkan suku bunga. Alhasil, daya tarik relatif aset rupiah bakal berkurang dan berpotensi membuat asing hengkang.

Dari situ, praktis tak ada ruang pemangkasan suku bunga domestik sampai 2027. Menurut Wafi, BI lebih mungkin menahan suku bunga di 5,75% atau terpaksa menaikkannya jika rupiah tertekan signifikan.

Bagi bank, tentu ini bukan berita baik. “Harapan perbaikan margin yang selama ini ditunggu pasar jadi tertunda lebih lama dari ekspektasi sebelumnya,” kata Wafi kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Untuk jangka pendek, kenaikan suku bunga The Fed memang hanya sentimen bagi saham bank. Namun, sejatinya itu bakal memengaruhi kinerja: suku bunga tinggi otomatis membuat biaya dana tetap tinggi, dan pada gilirannya mempersempit ruang repricing kredit. 

Pertumbuhan kredit lantas bakal terhambat karena bunga tinggi melemahkan permintaan. Dalam kondisi ini, Wafi menilai kualitas aset perlu diwaspadai, apalagi di segmen UMKM, utamanya mikro, yang paling sensitif. 

Namun, Wafi bilang bank sebenarnya sudah mengantisipasi dampak suku bunga tinggi terhadap kemampuannya menghasilkan laba dan nilai tambah ke investor. Itu, salah satunya, terlihat dari proyeksi penurunan rasio dividen BBRI ke 60%. “Artinya bank prioritaskan capital buffer daripada distribusi,” sebutnya. 

Menurut Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, (BI) tak otomatis mengikuti The Fed dalam hal kebijakan suku bunga. Ia sepakat bahwa kebijakan BI bakal bergantung pada kemampuan mata uang Garuda bertahan, di samping juga kelanjutan inflasi. 

Baca Juga: Saham Big Banks Sempat Rally Usai Ganti Menkeu, Kini Tertekan Lagi Begini Prospeknya

Maka dari itu, menurutnya arah pergerakan saham perbankan bakal lebih banyak ditentukan oleh stabilisasi nilai tukar rupiah, selain daripada pemulihan margin dan pertumbuhan laba yang menjadi perhatian pasar. 

Dalam kondisi ini, Andrey bilang investor perlu tetap selektif dan akumulasi bertahap saat valuasi menarik. “Sambil mencermati biaya dana dan kredit bermasalah,” imbuhnya. 

Ia masih menyukai keempat big banks, dengan BBCA yang ditopang dana murah serta kualitas aset,  BBRI oleh perbaikan kredit mikro dan biaya kredit, BMRI oleh pertumbuhan kredit dan pemulihan margin, serta BBNI oleh repricing kredit dan efisiensi. 

Sementara Wafi memilih BBCA dengan pertimbangan biaya dana paling stabil saat suku bunga tinggi, kualitas aset paling bersih seiring eksposur minim ke segmen mikro, serta dividen kuartalan yang konsisten sebagai income cushion. Ditambah, BBCA secara historis selalu jadi destinasi utama asing saat masuk ke aset Indonesia. 

Selain itu, ia memilih BMRI dengan dominasi portofolio korporasi yang lebih terprediksi ketimbang segmen mikro, juga valuasi yang bernilai dalam pasca sell-off, dan katalis belanja APBN pada semester II ini. 

Meski begitu, ia bilang pendapatan bunga bersih bank yang sudah turun hingga 7% pada semester I-2026 juga perlu dipantau sebagai peringatan awal penurunan margin. Maka dari itu, ia sepakat bahwa strategi terbaik saat ini adalah akumulasi bertahap saat harga lemah. 

Baca Juga: Saham Big Banks Bergerak Variatif, Sentimen Dana SAL Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×