Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sinyal pelemahan daya beli domestik kembali muncul, kali ini dari tren penyaluran kredit konsumsi yang melambat pada Februari 2026. Padahal, dalam periode ini terdapat momentum Ramadan yang secara historis dapat mendongkrak transaksi dan permintaan kredit masyarakat.
Menurut data sementara Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit secara industri melambat menjadi 8,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari pertumbuhan 10,2% yoy pada bulan sebelumnya.
Sejalan dengan itu, kredit konsumsi dalam periode ini tumbuh lebih landai 6,3% yoy dari pertumbuhan 7,2% yoy. Secara rinci, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna melambat masing-masing 5% yoy dari 5,5% yoy dan 8,7% dari 9,9% yoy, sementara kredit kendaraan bermotor (KKB) turun kian dalam menjadi 7,9% yoy dari 6,7% yoy.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet melihat kondisi ini sebagai tanda permintaan kredit dari rumah tangga tak sekuat pola normal.
Baca Juga: Tanda Daya Beli Anjlok Makin Kuat, Kredit Konsumsi di Ramadan Melambat
“Ini lebih mencerminkan pelemahan kemampuan rumah tangga untuk mengambil kredit, bukan sekadar konsumsi yang melemah,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, kredit konsumsi sangat bergantung pada ekspektasi pendapatan. Ketika rumah tangga menilai pendapatannya tak cukup kuat atau cenderung tak stabil, mereka cenderung menahan diri untuk menambah cicilan, termasuk pada periode musiman seperti Ramadan.
Yusuf juga melihat struktur pendapatan rumah tangga saat ini semakin rapuh. Tekanan pada kelas menengah dan peningkatan porsi pekerja informal membuat arus kas tidak stabil, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan likuiditas yang ada dibandingkan menambah utang.
Hal ini tercermin dari fenomena dissaving yang terjadi bersamaan dengan perlambatan kredit. “Konsumsi tetap berjalan, tetapi sumber pembiayaannya bergeser,” jelasnya.
Baca Juga: Bank Atur Strategi Jaga Kualitas Kredit Rumah Tangga
Dari sisi perbankan, Yusuf bilang faktor kehati-hatian juga berperan. Bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumsi seiring risiko kredit yang masih menjadi perhatian. Di sisi lain, suku bunga yang masih relatif tinggi turut membuat biaya pinjaman belum sepenuhnya menarik bagi rumah tangga.
Yusuf menilai dalang utama perlambatan ini tetap faktor domestik, mengingat terjadinya sebelum tensi geopolitik global meningkat ketika perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari.
Masalahnya, dinamika global kini berpotensi memperkuat tekanan ke depan.
Yusuf menyebut prospek kredit konsumsi masih bakal tumbuh ke depannya, tetapi dengan laju yang lebih moderat. Risiko perlambatan lanjutan tetap terbuka, terutama jika tekanan harga energi dan pangan meningkat sehingga menggerus pendapatan riil rumah tangga.
“Baik dari sisi perbankan maupun rumah tangga, kecenderungannya akan tetap defensif. Tanpa perbaikan pendapatan riil dan stabilitas harga, sulit bagi kredit konsumsi kembali menjadi motor pertumbuhan yang kuat,” imbuhnya.
Baca Juga: Kredit Konsumsi Perbankan Masih Melambat, Daya Beli Belum Pulih Secara Merata
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












