Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional, nyatanya sektor rumah tangga masih menghadapi tantangan berat. Itu tercermin dari kualitas kreditnya yang masih dalam tren pemburukan.
Menurut data Bank Indonesia (BI), hingga akhir tahun lalu rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) rumah tangga mencapai 2,39%, meningkat dari posisi 2,02% pada tahun sebelumnya. Peningkatan risiko ini disebut terjadi utamanya pada kelas menengah bawah. Tak pelak, bank mengambil sikap hati-hati yang pada gilirannya membuat pertumbuhan kredit konsumsi di segmen ini turut melambat.
Meski begitu, Direktur Pengelolaan Risiko Bank Tabungan Negara (BTN) Setiyo Wibowo menilai level NPL rumah tangga tahun lalu masih tergolong sehat dan sejalan dengan dinamika siklus ekonomi.
“Dalam fase tertentu, tekanan tersebut lumrah terjadi, misalnya dipengaruhi oleh kenaikan PHK di beberapa sektor, tekanan inflasi, serta perlambatan pada segmen-segmen usaha tertentu yang berdampak pada kemampuan bayar debitur,” jelas Setiyo kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: BTN Catat Pengajuan Kredit Digital Naik 11% YoY pada Januari 2026
Kalau di BTN, Setiyo bilang secara umum kualitas kredit terus membaik. Sebagai gambaran, hingga akhir tahun lalu NPL gross bank ada di level 3,17%, naik tipis dari 3,16% pada tahun sebelumnya. Untuk segmen rumah tangga, ia menyebut kondisinya juga tetap terjaga dan belum berada pada level yang mengkhawatirkan.
Setiyo tak menampik bahwa tekanan lebih terasa pada debitur di segmen yang lebih sensitif terhadap penurunan daya beli dan volatilitas pendapatan, terutama kelompok yang terdampak tekanan ekonomi sektoral.
Karena itulah, pihaknya saat ini kian selektif dalam akuisisi nasabah baru, dengan fokus pada segmen yang profil risikonya lebih baik, sekaligus memperkuat early warning system, monitoring perilaku pembayaran, dan proses penagihan yang lebih disiplin.
Untuk tahun ini, BTN optimistis kualitas kredit rumah tangga tetap terjaga. Meski begitu, berbagai faktor tetap bakal jadi penentu, termasuk perkembangan daya beli masyarakat, stabilitas inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Kredit BTN Januari Tumbuh 9,3%, Kuartal I Diproyeksi Tumbuh Moderat
“Jika faktor-faktor tersebut membaik, maka tentu akan membuka ruang perbaikan kemampuan bayar debitur,” kata Setiyo.
BTN menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 9–10% secara prudent tahun ini, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kualitas pertumbuhan. Dengan strategi tersebut, bank mengupayakan rasio NPL hingga akhir tahun dapat tetap terjaga di bawah 3%.
Senada, EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA) Hera F. Haryn bilang pihaknya mempertahankan rasio NPL rumah tangga tetap terkendali pada level yang sehat, sejalan dengan NPL bank secara keseluruhan.
Sebagai gambaran, rasio NPL BCA hingga akhir tahun lalu turun 1,71% dari posisi 1,78% pada tahun sebelumnya. Hera bilang itu dapat dicapai lantaran penyaluran kredit dilakukan secara pruden dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Selain itu, bank juga rutin melakukan memantau risiko konsentrasi kredit rumah tangga, termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya.
“Kami juga rutin mengevaluasi pembentukan provisi kredit, untuk mengelola potensi penurunan nilai kredit yang mungkin terjadi,” imbuh Hera. Pun, rasio pencadangan NPL dan LAR bank berada pada level solid hingga akhir tahun lalu, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%.
Baca Juga: BTN Targetkan Transaksi Digital Naik 15% di Ramadan, Bale by BTN Jadi Andalan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













