kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Kredit Modal Kerja Masih Lesu, Perbankan Siapkan Strategi Dorong Permintaan


Minggu, 30 November 2025 / 18:32 WIB
Kredit Modal Kerja Masih Lesu, Perbankan Siapkan Strategi Dorong Permintaan
ILUSTRASI. Karyawan memeriksa adonan roti di salah satu rumah industri di Tangerang Selatan, Rabu (16/9/2020). KONTAN/Carolus Agus Waluyo. Penyaluran kredit modal kerja (KMK) perbankan belum juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada penghujung tahun 2025.


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penyaluran kredit modal kerja (KMK) perbankan belum juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada penghujung tahun 2025. Hal ini sejalan dengan perlambatan aktivitas usaha dan kehati-hatian pelaku industri dalam melakukan ekspansi.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit modal kerja tampak lesu, per Oktober 2025 hanya tumbuh 2,1% secara tahunan mencapai Rp 3.448,2 triliun. Padahal di bulan sebelumnya atau September 2025 masih tumbuh 2,9% dan di Januari 2025 masih tumbuh 7,6%.

Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menilai kondisi tersebut tak terlepas dari sejumlah faktor yang masih menahan permintaan pembiayaan dari dunia usaha.

Amin menyebutkan, hingga saat ini kelesuan kredit modal kerja dipengaruhi oleh empat sentimen utama yakni suku bunga kredit yang masih berada di level tinggi, sehingga membuat perusahaan lebih berhati-hati menambah pembiayaan baru.

Baca Juga: OJK Kaji Restrukturisasi Kredit Korban Banjir Sumatera 2025

Selain itu, permintaan pembiayaan modal kerja belum banyak, terutama dari sektor-sektor yang masih mengalami tekanan permintaan domestik, banyak perusahaan memilih strategi wait and see terkait kondisi ekonomi, serta cenderung memanfaatkan kas internal untuk kebutuhan modal kerja.

Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga disebut Amin umumnya lebih fokus pada sektor UMKM, yang juga menghadapi tekanan permintaan.

“Perusahaan lebih memilih menggunakan dana sendiri ketimbang mengambil kredit baru,” ujar Amin kepada kontan.co.id, Minggu (30/11).

Memasuki akhir tahun, prospek kredit modal kerja dinilai masih akan tumbuh terbatas. Menurut Amin, pelemahan daya beli dan sentimen kehati-hatian pelaku usaha diperkirakan menahan ekspansi pembiayaan hingga tutup tahun.

“Menurut saya semua kredit akan tumbuh di bawah 10%, tak terkecuali kredit modal kerja,” katanya.

Meski tahun ini pertumbuhan masih terbatas, sejumlah strategi dinilai dapat lebih efektif diterapkan pada tahun depan untuk mendorong penyaluran KMK.

Amin memaparkan tiga strategi utama yang dapat dilakukan perbankan, diantaranya penyesuaian suku bunga pinjaman, agar lebih kompetitif dan menarik minat debitur, pemberian fleksibilitas cicilan dengan proses persetujuan yang cepat (instan) untuk meningkatkan daya tarik pembiayaan, dan penguatan personal selling dilengkapi dengan promo dan gimmick menarik untuk memperluas basis debitur.

Amin meyakini bahwa jika kondisi ekonomi mulai membaik dan strategi tersebut dijalankan secara optimal, penyaluran kredit modal kerja bisa kembali menggeliat pada tahun depan.

Perlambatan penyaluran kredit modal kerja juga turut dirasakan Bank BPD DIY. Hingga Oktober 2025, realisasi kredit modal kerja bank daerah tersebut baru mencapai Rp 2,9 triliun, atau tumbuh tipis sekitar 1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: OJK: Perlambatan Ekonomi Hantam Premi Asuransi Jiwa & Umum

Direktur Pemasaran Bank BPD DIY, R Agus Trimurjanto menyampaikan, perlambatan ini sejalan dengan tren nasional yang ditandai lemahnya permintaan modal kerja akibat tekanan daya beli dan aktivitas usaha yang belum pulih sepenuhnya.

Agus menjelaskan, kredit modal kerja BPD DIY tertekan oleh beberapa faktor utama. UMKM, yang menjadi segmen inti BPD DIY, mengalami penurunan permintaan akibat lemahnya konsumsi domestik.

“Sektor perdagangan dan industri pengolahan di DIY masih lesu sehingga permintaan modal kerja melemah. Pariwisata memang pulih, tapi belum cukup mendorong kebutuhan modal kerja,” ungkap Agus.

Selain itu, korporasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta juga cenderung menahan ekspansi dan lebih fokus menjaga arus kas. Belanja pemerintah, baik APBD maupun APBN, disebut belum optimal sehingga efek penggandanya terhadap kebutuhan pembiayaan usaha belum terasa kuat.

Meski begitu, sentimen secara keseluruhan masih bersifat hati-hati namun tetap optimistis. Bank menargetkan kredit modal kerja dapat mencapai Rp 3,2 triliun pada akhir 2025.

Untuk sisa tahun 2025, kredit modal kerja diperkirakan hanya meningkat terbatas. Penyaluran dilakukan lebih selektif, terutama pada sektor-sektor yang perputaran uangnya cepat.

Memasuki awal 2026, peluang pemulihan terlihat lebih besar. Faktor pendorong utamanya antara lain pulihnya pariwisata secara lebih kuat, peningkatan aktivitas perdagangan, serta percepatan realisasi belanja pemerintah.

“Jika pariwisata dan APBD–APBN bergerak lebih cepat, kredit modal kerja bisa mulai menggeliat di awal 2026,” kata Agus.

BPD DIY juga menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat penyaluran kredit modal kerja ke depan, yakni fokus sektor prioritas di daerah seperti pariwisata & hospitality, perdagangan besar & eceran, konstruksi (proyek APBD/APBN), UMKM, dan Perantara Keuangan.

Bank BPD DIY juga melakukan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah, melakukan percepatan kredit melalui digitalisasi dengan memperkuat penyederhanaan proses aplikasi kredit melalui sistem digital, serta memanfaatkan data transaksi untuk mempercepat proses penilaian risiko.

"Kami juga mendorong pembiayaan berbasis klaster misalnya batik dan kuliner serta menggandeng komunitas dan asosiasi bisnis. BPD DIY juga mengoptimalkan penyaluran kredit program pemerintah seperti KUR, KIPK, dan KPP," imbuhnya.

Sementara Direktur Kepatuhan Ok Bank Efdinal Alamsyah mengaku mencatat pertumbuhan penyaluran kredit modal kerja yang tetap positif di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan. Per Oktober 2025, kredit modal kerja perseroan meningkat sekitar 6% dibandingkan posisi Desember 2024, dengan total realisasi mencapai Rp 4,8 triliun.

Menurut Efdinal, meskipun daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dan pelaku usaha masih cenderung berhati-hati, bank tetap menjaga optimisme terhadap prospek pembiayaan tahun ini. 

Dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), OK Bank menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10% pada 2025, termasuk penyaluran kredit modal kerja.

“Pertumbuhan kredit modal kerja kami masih positif dan on track. Kami mempertahankan prinsip seleksi dan underwriting yang prudent, sekaligus memastikan kredit yang diberikan benar-benar mendorong aktivitas usaha produktif,” ujar Efdinal.

OK Bank menyatakan bahwa strategi penyaluran kredit diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan permintaan yang stabil. Beberapa sektor yang menjadi fokus antara lain perdagangan dan manufaktur, yang dinilai memiliki daya ungkit tinggi terhadap perputaran ekonomi.

Selain itu, OK Bank memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk fintech dan multifinance, untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha yang selama ini belum sepenuhnya terlayani oleh perbankan konvensional. Melalui kerja sama ini, bank berharap dapat meningkatkan akses pembiayaan sekaligus menjaga kualitas portofolio.

“Sinergi dengan fintech dan multifinance memungkinkan kami memperluas jangkauan secara lebih efisien dan terukur, terutama untuk segmen usaha yang membutuhkan dukungan modal kerja tetapi memiliki keterbatasan akses,” tambah Efdinal.

Dengan kombinasi strategi selektif, kemitraan digital, dan fokus pada sektor produktif, OK Bank menilai prospek pertumbuhan kredit sepanjang 2025 masih terbuka, meski tetap dipengaruhi dinamika ekonomi global maupun domestik.

Baca Juga: Banjir Sumatera 2025, Sejumlah KCP BNI Tutup Sementara

Selanjutnya: Banjir dan Longsor di Asia Tenggara Renggut Lebih dari 600 Korban Jiwa

Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×