Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menunjukkan tren positif, tetapi lajunya belum banyak ditopang oleh segmen ritel.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyoroti laju kredit yang saat ini lebih banyak didorong oleh kredit investasi, sementara kredit konsumer dan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tekanan.
BRIDS mencatat, data hingga Juni 2026 menunjukkan kredit industri perbankan tumbuh sekitar 12,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kredit investasi yang melesat sekitar 25% yoy.
Sebaliknya, kredit konsumer hanya tumbuh sekitar 5% yoy. Sementara itu, kredit modal kerja untuk segmen UMKM mengalami kontraksi sekitar 4%-5% yoy.
Mengacu data terbaru, Bank Indonesia (BI) juga mencatat kredit perbankan nasional berhasil tumbuh 13,65% yoy per Agustus 2026. Rinciannya, kredit investasi tumbuh 25,11% yoy, kredit modal kerja tumbuh 11,45% yoy, sementara kredit konsumsi hanya tumbuh 5,07% yoy.
Baca Juga: OJK Dorong Sinergi dan Inovasi untuk Perkuat Keuangan Digital
Pun, laporan analisis uang beredar BI mencatat kredit UMKM hanya tumbuh 2,3% yoy per Agustus 2026.
Dari segi kualitas aset, kredit konsumer juga tertekan. BRIDS mencatat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) segmen konsumer meningkat menjadi sekitar 2,4%-2,5%, dibandingkan sekitar 1,6% pada Januari 2023.
Berdasarkan segmen, NPL KPR tercatat sekitar 3,3%, sedangkan NPL kredit apartemen mencapai 4,3% dan kredit kendaraan sekitar 2,6%.
Dalam kondisi ini, BRIDS menyoroti strategi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang justru mengerem pertumbuhan kredit konsumer menjadi 3% yoy. Langkah BBCA itu dianggap sebagai sinyal bahwa perbankan mulai lebih berhati-hati terhadap risiko di segmen ritel.
“BCA biasanya paling cepat membaca risiko, jadi ini sinyal risiko ritel lebih besar dari yang terlihat di angka NPL industri,” demikian tertulis dalam riset, dikutip Kamis (24/9/2026).
BRIDS juga menyoroti sejumlah bank dengan catatan pertumbuhan kredit konsumer yang masih tinggi sekitar 9%-10% yoy, antara lain PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Bank-bank ini, dengan pertumbuhan kredit konsumer yang relatif tinggi, disebut perlu mencermati potensi kenaikan biaya pencadangan pada paruh kedua 2026 hingga 2027, seiring dengan perkembangan kualitas aset.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Kredit Tekstil, Bank Ungkap Syarat Debitur yang Dibidik
Maka, BRIDS memandang bank dengan pertumbuhan kredit konsumer yang lebih rendah seperti BBCA, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memiliki eksposur yang lebih terbatas terhadap risiko tersebut.
Dari sisi valuasi, BRIDS mencatat sektor perbankan saat ini diperdagangkan pada sekitar 1,5 kali price to book value (PBV) 2026.
Level tersebut berada sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, sehingga BRIDS menilai valuasi sektor perbankan masih relatif rendah.
BRIDS mempertahankan rekomendasi buy terhadap sejumlah saham bank. BBCA memiliki target harga Rp 8.600, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 6.200, BBNI Rp 4.800, BRIS Rp 3.100, BBTN Rp 1.500, dan BNGA Rp 2.100.
Sementara itu, BTPS juga mendapatkan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 1.400. Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berstatus not rated.
BRIDS menempatkan BBCA sebagai top pick sektor perbankan, diikuti BTPS dan BNGA. Ketiganya dinilai memiliki pertumbuhan kredit konsumer yang relatif rendah serta eksposur yang lebih terbatas terhadap program pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














