kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Kredit UMKM Baru Tumbuh 1% hingga Juni 2026, OJK Optimistis Membaik Semester II


Sabtu, 25 Juli 2026 / 07:15 WIB
Kredit UMKM Baru Tumbuh 1% hingga Juni 2026, OJK Optimistis Membaik Semester II
ILUSTRASI. Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih bergerak lebih lambat dibandingkan ekspansi kredit perbankan secara keseluruhan (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih bergerak lebih lambat dibandingkan ekspansi kredit perbankan secara keseluruhan. Meski menunjukkan perbaikan pada Juni 2026, laju penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM masih menghadapi tantangan akibat lemahnya daya beli masyarakat dan tingginya risiko kredit.

Data menunjukkan, hingga Juni 2026 kredit UMKM hanya tumbuh 1% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 1.519,1 triliun. Angka ini membaik dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang hanya mencapai 0,6% YoY.

Namun, capaian tersebut masih tertinggal jauh dari pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 12,6% YoY pada periode yang sama.

Daya Beli Lemah Jadi Penghambat Kredit UMKM

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, perlambatan kredit UMKM dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang masih memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.

Baca Juga: Laba BNI (BBNI) Semester I-2026 Diproyeksi Rp 11,1 Triliun, Begini Rekomendasi Analis

Menurut Dian, kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan omzet dan perputaran kas pelaku UMKM sehingga proses pemulihan usaha berlangsung lebih lambat dibandingkan sektor korporasi.

"Dinamika kondisi ekonomi yang disertai perubahan pola konsumsi masyarakat memberi tekanan terhadap daya beli, terutama di kelas menengah ke bawah. Hal tersebut dapat memengaruhi aktivitas UMKM dan pembiayaan di tengah proses pemulihan sektor UMKM pascapandemi sehingga relatif lebih lambat dibandingkan sektor korporasi," ujar Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Jumat (24/7/2026).

Meski demikian, OJK tetap optimistis pertumbuhan kredit UMKM akan meningkat hingga akhir 2026. Regulator menilai tingkat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih terjaga diharapkan mampu menopang aktivitas usaha para pelaku UMKM.

OJK Perkuat Akses Pembiayaan UMKM

Untuk mendorong pemulihan pembiayaan, OJK bersama pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan yang bertujuan meningkatkan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Salah satunya melalui penerbitan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Regulasi tersebut dirancang untuk memperluas akses pembiayaan yang lebih mudah, cepat, murah, dan inklusif.

Melalui aturan tersebut, OJK juga mendorong perbankan membangun ekosistem pembiayaan UMKM yang lebih berkelanjutan melalui optimalisasi berbagai skema pembiayaan dan pendampingan kepada pelaku usaha.

Selain itu, regulator mengarahkan bank untuk memperluas pembiayaan berbasis supply chain financing, mempercepat digitalisasi proses kredit, memperkuat kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan lainnya, serta meningkatkan literasi keuangan bagi pelaku UMKM.

LPPI: Baru Sinyal Awal Pemulihan

Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan pertumbuhan kredit UMKM dari 0,6% menjadi 1% belum mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Baca Juga: Lembaga Keuangan Makin Mengandalkan Data, CLIK Memperkenalkan Propensity Score

Menurutnya, peningkatan tersebut lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan kredit investasi, sedangkan kredit modal kerja masih belum menunjukkan penguatan yang signifikan.

"Kenaikan ini lebih merupakan sinyal awal pemulihan. Pelaku UMKM mulai berani berekspansi, tetapi aktivitas usahanya belum sepenuhnya pulih," ujar Trioksa.

Ia memperkirakan pertumbuhan kredit UMKM akan terus membaik hingga akhir tahun, didukung oleh likuiditas perbankan yang memadai, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta berbagai insentif kebijakan.

Meski demikian, tingginya risiko kredit dan lemahnya permintaan domestik masih menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan pembiayaan.

Trioksa memproyeksikan kredit UMKM berpotensi tumbuh sekitar 3% hingga 5% sepanjang 2026. Pertumbuhan bahkan dapat lebih tinggi apabila konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah meningkat pada semester II-2026.

Untuk menjaga momentum tersebut, ia menilai perbankan perlu memperkuat kualitas penyaluran kredit melalui pemanfaatan data digital dalam proses penilaian kredit, pengembangan pembiayaan berbasis rantai pasok, pendampingan kepada pelaku usaha, serta penerapan manajemen risiko yang lebih adaptif.

Bank Mandiri Catat Pertumbuhan Kredit UMKM 2,48%

Di tengah perlambatan industri, sejumlah bank masih mampu mencatatkan pertumbuhan kredit UMKM di atas rata-rata nasional.

Direktur Commercial Banking PT Bank Mandiri Tbk Totok Priyambodo mengatakan, hingga Juni 2026 kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 2,48% YoY menjadi Rp 85 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekosistem Kredit Usaha Mikro (KUM) yang meningkat 15,7% YoY, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga kualitas portofolio kredit.

Ke depan, Bank Mandiri akan tetap fokus menyalurkan pembiayaan secara selektif kepada sektor-sektor produktif yang menjadi unggulan di masing-masing daerah, seperti pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan jasa produksi.

Baca Juga: Laba BFI Finance Naik 8,7% di Semester I-2026, Pembiayaaan Capai Rp 10,7 Triliun

"Upaya tersebut didukung oleh sinergi lintas segmen, kapabilitas digital, serta kekuatan ekosistem Mandiri Group," ujar Totok.

Selain menyalurkan pembiayaan, Bank Mandiri juga terus menjalankan program pemberdayaan UMKM, seperti Wirausaha Muda Mandiri dan Rumah Kreatif BUMN, guna meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar mampu naik kelas.

CIMB Niaga: Permintaan Kredit Masih Lemah

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menilai permintaan kredit, termasuk pada segmen UMKM, masih tertahan akibat lemahnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, berbagai insentif yang diberikan regulator memang membantu mendorong penyaluran pembiayaan. Namun, kenaikan suku bunga acuan sebelumnya juga menyebabkan biaya dana (cost of fund) meningkat.

"Permintaan kredit itu sendiri relatif masih lemah karena faktor daya beli masyarakat yang masih rendah. Walaupun insentif dari regulator membantu, kenaikan BI Rate juga menaikkan cost of fund," kata Lani.

Ia memperkirakan pertumbuhan kredit ritel, termasuk UMKM, hingga akhir tahun masih berada pada kisaran single digit rendah.

Hingga Maret 2026, pembiayaan UMKM CIMB Niaga tercatat mencapai Rp 26,9 triliun, atau tumbuh 1,2% YoY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×