Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus menunjukkan pertumbuhan positif pada awal 2026. Pada Maret 2026, pertumbuhan DPK tercatat semakin menguat dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp 9.658,5 triliun atau tumbuh 10,7% secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 9,2% YoY.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan seluruh komponen DPK. Giro menjadi kontributor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 21,2% YoY. Sementara itu, tabungan tumbuh 8,4% YoY dan simpanan berjangka atau deposito naik 4,4% YoY.
Kinerja tersebut juga menunjukkan akselerasi dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Februari 2026, giro tercatat tumbuh 17,6% YoY, tabungan 7,7% YoY, dan deposito 3,7% YoY.
Sementara itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penghimpunan DPK perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp 10.231 triliun atau tumbuh 13,55% YoY. Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 13,18% YoY dengan nominal Rp 10.102 triliun.
Baca Juga: Kurs Jual Dolar AS di Sejumlah Bank Tembus Rp 17.500 Saat Rupiah Menguat Kamis (7/5)
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menilai tren penghimpunan DPK masih berada dalam jalur pertumbuhan yang positif.
“OJK memandang tren penghimpunan DPK tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif, setelah pada bulan sebelumnya laju DPK terlihat lebih moderat seiring proses normalisasi setelah akselerasi pada periode sebelumnya,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Kamis (7/5).
Menurutnya, dinamika tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya alternatif penempatan dana masyarakat pada berbagai instrumen investasi lain di tengah tren penurunan suku bunga perbankan.
Meski demikian, OJK menilai struktur DPK perbankan masih akan tetap terjaga secara sehat dan seimbang. Dengan kondisi tersebut, industri perbankan dinilai memiliki ruang yang memadai untuk menjaga likuiditas sekaligus mendukung fungsi intermediasi secara berkelanjutan.
"Hingga akhir 2026, pertumbuhan DPK juga diharapkan tetap meningkat seiring dengan stabilitas sektor jasa keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional," imbuhnya.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pertumbuhan DPK yang mampu mencapai double digit pada awal tahun didorong oleh sejumlah faktor utama, terutama peningkatan aktivitas ekonomi dan membaiknya arus kas korporasi.
Menurutnya, segmen korporasi menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK, khususnya pada instrumen giro yang tumbuh paling tinggi. Hal ini mencerminkan pemulihan aktivitas bisnis, pertumbuhan kredit investasi, hingga belanja pemerintah yang lebih agresif.
“Giro menjadi motor utama pertumbuhan DPK, diikuti tabungan dan deposito. Ini menunjukkan pertumbuhan DPK bukan hanya berasal dari bunga tinggi, tetapi juga didorong aktivitas ekonomi riil yang membaik,” ujar Myrdal.
Baca Juga: OJK Siapkan Roadmap PPDP 2026-2030, Fokus Keuangan Berkelanjutan
Selain itu, ia menilai kepercayaan masyarakat dan rumah tangga masih cukup tinggi. Pertumbuhan tabungan dan giro ritel ditopang oleh inflasi yang terkendali serta stabilitas makroekonomi di tengah tekanan global akibat kenaikan harga minyak dan barang impor.
Likuiditas sistem perbankan yang masih longgar juga menjadi faktor pendukung. Hal tersebut tercermin dari rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) yang masih berada di level nyaman, ditopang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia dan stimulus pemerintah.
Myrdal juga melihat faktor musiman turut mendukung pertumbuhan dana masyarakat, seperti pencairan tunjangan hari raya (THR), masa panen raya, hingga percepatan belanja pemerintah pada awal tahun.
Di samping itu, ketidakpastian global juga membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dan memilih menyimpan dana di instrumen yang relatif aman seperti simpanan perbankan.
Ke depan, Myrdal memproyeksikan pertumbuhan DPK industri perbankan sepanjang 2026 masih akan tetap solid, yakni di kisaran 11,98%.
Untuk menjaga momentum tersebut, Myrdal menilai perbankan perlu terus memperkuat strategi penghimpunan dana murah atau current account saving account (CASA), mengingat biaya dana (cost of fund) giro dan tabungan lebih rendah dibanding deposito.
Menurutnya, strategi yang dapat dilakukan bank antara lain memperkuat ekosistem payroll, layanan transaksi digital, hingga integrasi dengan ekosistem merchant, e-commerce, dan UMKM.
Selain itu, bank juga perlu menawarkan produk deposito yang kompetitif, memperkuat layanan digital banking, serta meningkatkan relationship management untuk segmen korporasi dan nasabah affluent.
“Optimalisasi bauran funding menjadi penting, yakni kombinasi CASA, deposito, dan produk funding inovatif agar struktur likuiditas tetap sehat dan efisien,” tutupnya.
Baca Juga: OJK Tindak Enam Entitas Pialang Asuransi Ilegal, Usut 15 Entitas Lain
Sejumlah perbankan juga terlihat mencatatkan pertumbuhan DPK hingga double digit. Ambil contoh, PT Bank Mandiri mencatatkan total DPK bank only sebesar Rp 1.675 triliun atau meningkat 21,1% YoY. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh current account saving account (CASA) yang mencapai Rp 1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga Bank Mandiri akan ditargetkan tumbuh lebih tinggi dengan fokus tetap pada peningkatan CASA.
Menurutnya, hal itu dilakukan agar struktur funding semakin efisien dan likuiditas tetap terjaga, termasuk menjaga loan to deposit ratio (LDR) agar berada pada level yang sehat.
"Dengan fundamental yang kuat, strategi bisnis yang terarah serta disiplin dalam pengelolaan risiko, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di sepanjang tahun 2026," ungkapnya.
Tak mau kalah, PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatatkan pertumbuhan DPK pada kuartal I-2026 sebesar 34,3% YoY menjadi Rp 1.100 triliun, dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 819,58 triliun.
Hal ini salah satunya ditopang pertumbuhan dana murah BNI yang mencapai 26,6% YoY menjadi Rp 731,6 triliun pada Maret 2026, didukung pertumbuhan giro sebesar 39,7% YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 10,4% YoY.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa kinerja keuangan BNI tumbuh positif dan seimbang, ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam memperkuat basis dana murah (CASA) yang semakin solid.
"Struktur pendanaan yang kuat ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, sekaligus menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat," ungkapnya.
Menurutnya, pencapaian ini tidak diperoleh dalam waktu singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI.
Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share sebesar 120 basis points (bps) dari 10,1% pada Maret 2025 menjadi 11,3% pada Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.
Baca Juga: Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Nasabah Pinjaman
Platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel.
Sementara itu, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% YoY, yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.
Sementara itu, tiga bank besar lainnya mencatatkan pertumbuhan DPK single digit pada kuartal I-2026. Seperti PT Bank Central Asia (BCA) dengan pertumbuhan DPK 8,3% YoY mencapai Rp 1.292 triliun. Kemudian, DPK PT Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp 422,63 triliun. BTN juga memproyeksikan DPK pada tahun ini dapat dijaga di level 7%-9%.
Adapun DPK BRI tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp 1.555 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan dana murah yang naik 13,2% YoY menjadi Rp 1.058,6 triliun.
Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, mengatakan giro dan tabungan tercatat tumbuh double digit dengan masing-masing naik 15,6% YoY dan 11,5% YoY.
“Angka tersebut juga menandai tonggak penting bagi BRI, di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah, pencapaian tabungan BRI berhasil menembus level Rp 600 triliun, atau tepatnya mencapai Rp 605,8 triliun,” ujarnya.
Peningkatan CASA tersebut mendorong rasio CASA BRI mencapai 68,07%, dari 65,77% pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini sejalan dengan semakin tingginya volume transaksi melalui berbagai kanal digital seperti BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













