kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45909,48   7,81   0.87%
  • EMAS961.000 -1,64%
  • RD.SAHAM 1.17%
  • RD.CAMPURAN 0.57%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Margin bunga bersih perbankan diramal melandai sampai akhir tahun


Sabtu, 24 Oktober 2020 / 19:46 WIB
Margin bunga bersih perbankan diramal melandai sampai akhir tahun
ILUSTRASI. Penyaluran kredit perbankan lesu lantaran jumlah permintaan kredit baru yang sepi.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang disusul dengan penurunan suku bunga menyebabkan kemampuan bank untuk mencetak laba terus menyusut. Penyaluran kredit perbankan lesu lantaran jumlah permintaan kredit baru yang sepi.

Apalagi bank semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit karena risiko kredit yang makin tinggi. Alhasil, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan berpotensi turun.

Posisi NIM perbankan ada pada level 4,43% pada Agustus 2020. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa posisi ini stabil jika dibandingkan dengan periode satu bulan sebelumnya. Hanya saja, posisi NIM menurut perbankan akan terus melandai seiring belum pulihnya ekonomi.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat posisi NIM ada di level 5,75% hingga akhir September 2020. Walau bisa dibilang tinggi, posisi itu jauh lebih rendah dari rata-rata NIM BRI di tahun-tahun sebelumnya yang di kisaran 6,5%-7%. 

Baca Juga: Daftar link lelang rumah murah sitaan bank BUMN

Pada September tahun lalu, NIM BRI berada di level 6,81%. "NIM industri perbankan akan mengalami penurunan seiring dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia," kata Sekretaris Perusahaan Bank BRI Aestika Oryza Gunarto kepada Kontan.co.id, Selasa (20/10). 

Dia menambahkan, faktor lain yang mempengaruhi NIM BRI adalah restrukturisasi kredit. Semakin tinggi restrukturisasi tentu akan semakin menggerus pendapatan bunga yang diperoleh bank. 

Kalau bank besar masih bisa menjaga NIM di level tinggi, lain halnya dengan bank-bank kecil yang terpaksa menelan pil pahit penurunan NIM. PT Bank Mayora, kelompok BUKU II misalnya yang mencatat NIM di kisaran 4,1%. September 2019 lalu, NIM Bank Mayora berada kisaran 4,94%.

Bahkan sampai dengan bulan Juni 2020 NIM Bank Mayora masih ada di posisi 4,2%. "Hal ini disebabkan karena beban operasional bank masih tinggi serta bank masih belum efisien," kata Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij. 

Baca Juga: Cegah penurunan kualitas debitur, OJK perpanjang relaksasi restrukturisasi kredit

Di samping itu, ada banyak debitur Bank Mayora yang mengajukan keringanan suku bunga kredit. Praktis hal itu membuat pendapatan semakin tergerus. Adapun, sampai akhir tahun Bank Mayora masih percaya diri bisa menjaga NIM di atas 4% melalui upaya efisiensi biaya dana. 

Sedikit berbeda, PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS) mengaku mampu menjaga posisi NIM stabil alias setara dengan Desember 2019 lalu. Asal tahu saja, akhir tahun lalu Bank BWS mencatatkan NIM di level 3,4%. "Awal sampai pertengahan tahun sempat turun, di kuartal III mulai meningkat," kata Direktur Kepatuhan Bank BWS Sadhana Priatmadja. 

Bank BWS menekan biaya dana alias tidak terlalu membiarkan banyak dana menganggur (idle) sambil mengupayakan penagihan kredit kepada debitur. Menurut Sadhama, ada potensi NIM bisa naik di akhir tahun, dengan catatan kondisi makro bisa dijaga stabil. "Kalau tidak memburuk, NIM akan stabil atau bahkan naik," imbuhnya. 

Tapi, pihaknya memilih untuk memasang target konservatif lantaran sejauh ini menurut Bank BWS kondisi pandemi Covid-19 masih cukup memberikan dampak kepada kemampuan debitur dalam melakukan pembayaran. 

Baca Juga: Bank BTN kejar laba bersih Rp 1,2 triliun sampai akhir tahun, sesuai RBB

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×